
PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Media komunikasi modern sekarang sudah tak terhitung jumlah, ragam, dan luasnya jangkauan kemampuannya, itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Di tempat-tempat kesendirian kita, di kamar kita, di pelosok-pelosok desa terpencil sekalipun, media komunikasi banyak tersedia. Bahkan melalui kamar kerja di rumah bagi mereka yang mempunyai fasilitas komputer dan internet, sanggup mengakses informasi yang tempatnya jauh di belahan dunia sana. Ilmu komunikasi menyebutnya sebagai media komunikasi, sedangkan dunia perpustakaan menyebutnya sebagai sumber-sumber informasi. Tidak ada definisi umum yang tegas tentang media ini, kecuali telah dikonteksan ke dalam bidang subjek tertentu. Dalam kajian dalam psikologi komunikasi, proses komunikasi bukan hanya terjadi diantara manusia, tapi juga diantara diri manusia itu sendiri, sebelum (IP) isi pernyataan dikeluarkan, sebagai reaksiyang dikeluarkan feedback oleh komunikan. Jalaudin Rahmat dalam bukunya yaitu psikologi komunikasi, menjelaskan tentang komunikasi interpersional. Komunikasi interpersonal yaitu bagaimana orang menerima komunikasi, mengolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya kembali. Tahapan prosesnya meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berfikir. Komunikasi manusia itu menyangkut segala sesuatu akibatnya komunikasi itu sangat mendasar dalam kehidupan manusia, komunikasi merupakanproses yang universal sehingga manusia tidak akan dapat lepas dari komunikasi. Komunikasi yang dilakukan oleh seorang manusia dengan manusia yang lain ini dikatakan sebagai komunikasi antar pribadi (komunikasi interpersonal). Pada hakikatnya Komunikasi antar pribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara seorang komunikator dengan seorang komunikan. 2. RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang diatas didapat rumusan masalah sebagai berikut : • Tujuan utama komunikasi adalah untuk? • Apa manfaat komunikasi interpersonal untuk pergaulan? • Hakikat dan perbedaan antara komunikasi antar personal dann komunikasi intrapersonal 3. DASAR TEORI Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media terrtentu untuk menghasilkan efek /tujuan dengan mengharapkan feedback atau umpan balik. 1. Komunikasi Interpersonal: komunikasi dalam diri 2. Komunikasi Transendenta: ex. Komunikasi dengan Tuhan 3. Komunikasi Organisasi: ex. Humas APMD mengadakan jumpa pers Para ahli perspektif interaksionisme simbolik melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku nonverbal, dan objek yang disepakati bersama. Interaksi simbolik, menurut Herbert Blumer, merujuk pada “karakter interaksi khusus yang berlangsung antar manusia.” Aktor tidak semata-mata bereaksi terhadap tindakan yang lain tetapi dia menafsirkan dan mendefinisikan setiap tindakan orang lain. Respon aktor baik secara langsung maupun tidak langsung, selalu didasarkan atas makna penilaian tersebut. Oleh karenanya, interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran atau dengan menemukan makna tindakan orang lain . Dalam konteks itu, menurut Blumer, aktor akan memilih, memeriksa, berpikir, mengelompokan, dan mentransformasikan makna dalam kaitannya dengan situasi dimana dan kearah mana tindakannya. Teori interaksionisme simbolik sangat menekankan arti pentingnya “proses mental” atau proses berpikir bagi manusia sebelum mereka bertindak. Tindakan manusia itu sama sekali bukan stimulus – respon, melainkan stimulus – proses berpikir – respons. Jadi, terdapat variabel antara atau variabel yang menjembatani antara stimulus dengan respon, yaitu proses mental atau proses berpikir, yang tidak lain adalah interpretasi. Teori interaksionisme simbolik memandang bahwa arti/makna muncul dari proses interaksi sosial yang telah dilakukan. Arti dari sebuah benda tumbuh dari cara-cara dimana orang lain bersikap terhadap orang tersebut. Teori interaksionisme simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis sosial manusia. Bagi perspektif ini, individu bersifat aktif, reflektif dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham ini menolak gagasan bahwa individu adalah organisme pasif yang perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan struktur yang ada di luar dirinya. Interaksilah yang dianggap variabel penting yang menentukan perilaku manusia, bukan struktur masyarakat. Esensi interaksionisme simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Perspektif ini berupaya untuk memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Teori ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Manusia bertindak hanya berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas objek-objek di sekeliling mereka. Dalam pandangan perspektif ini, sebagaimana ditegaskan Blumer,proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakan aturan-aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan menegakan kehidupan kelompok. Menurut teoritisi perspektif ini, kehidupan sosial adalah “interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol.” Penganut interaksionisme simbolik berpandangan, perilaku manusia adalah produkdari interpretasi mereka atas dunia di sekeliling mereka, jadi tidak mengakui bahwa perilaku itu dipelajari atau ditentukan, sebagaimana dianut teori behavioristik atau teori struktural. Di dalam bukunya yang amat terkenal, yaitu ”Symbolic Interactionism; Perspective, and Method,” Herbert Blumer menegaskan bahwa ada tiga asumsi yang mendasari tindakan manusia (dalam Sutaryo, 2005). Tiga asumsi tersebut adalah sebagai berikut: 1)Human being act toward things on the basic of the meaning that the things have for them; 2)The meaning of the things arises out of the social interaction one with one’s fellow; 3)The meaning of things are handled in and modified through an interpretative process used by the person in dealing with the thing he encounters. Premis pertama sampai ketiga itu mempunyai pengertian seperti ini. Pertama, bahwa manusia itu bertindak terhadap sesuatu (apakah itu benda, kejadian,maupun fenomena tertentu) atas maknayang dimiliki oleh benda, kejadian, atau fenomena itu bagi mereka.Individu merespon suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial (perilaku manusia) berdasarkan maknayang dikandung komponen tersebut bagi mereka. Kedua, makna tadi diberikan oleh manusia sebagai hasil interaksi dengan sesamanya. Jadi, makna tadi tidak inherent, tidak terlekat pada benda ataupun fenomenanya itu sendiri, melainkan tergantung pada orang-orang yang terlibat dalam interaksi itu. Makna dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Negosiasi itu dimungkinkan karena manusia mampu menamai segala sesuatu, bukan hanya objek fisik, tindakan, atau peristiwa (bahkan tanpa kehadiran objek fisik, tindakan, atau peristiwa itu) namun juga gagasanyang abstrak. Akan tetapi, nama atau simbol yang digunakan untuk menandai objek, tindakan, peristiwa, atau gagasan itu bersifat arbitrer (sembarang). Melalui penggunaan simbol itulah manusia dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang dunia. Ketiga, makna tadi ditangani dan dimodifikasi melalui proses interpretasi dalam rangka menghadapi fenomena tertentu lainnya. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial. Perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Menurut Ritzer, kesimpulan utama yang perlu diambil dari substansi teori interaksionisme simbolik adalah sebagai berikut. Kehidupan bermasyarakat itu terbentuk melalui proses komunikasi dan interaksi antarindividu dan antarkelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar. Tindakan seseorang dalam proses interaksi itu bukan semata-mata merupakan suatu tanggapan yang bersifat langsung terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya atau dari luar dirinya, melainkan dari hasil sebuah proses interpretasi terhadap stimulus. Jadi jelas, bahwa hal ini merupakan hasil proses belajar, dalam arti memahami simbol-simbol, dan saling menyesuaikan makna dari simbol-simbol tersebut. Meskipun norma-norma, nilai-nilai sosial dan makna dari simbol-simbol itu memberikan pembatasan terhadap tindakannya, namun dengan kemampuan berpikir yang dimilikinya, manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan tindakan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya. Singkatnya, bahwa symbolic interactionist (para pengikut teori interaksionisme simbolik) memberi dasar penalaran bahwa, there is a ‘minding’process that interveness between stimulus and response. It is this mental process, and not simply the stimulus, that determines how a man will react. Pengaruh Konsep Diri pada Komunikasi Interpersonal Proses interaksi dan komunikasi antar individu dan antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar merupakan hal penting dalam pembentukan konsep diri manusia. Demikian juga, konsep diri yang terbentuk dalam diri seseorang akan berpengaruh pula terhadap komunikasi interpersonalnya. Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Kecenderungan ini disebut nubuat yang dipenuhi sendiri. Bila kita merasa memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan, maka persoalan apapun yang kita hadapi pada akhirnya dapat kita atasi. Kita berusaha hidup sesuai dengan label yang kita lekatkan pada diri kita. Hubungan konsep diri dengan perilaku, mungkin dapat disimpulkan dengan para penganjur pemikir positif: You don’t think what you are, you are what you think. Sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri kita, positif atau negatif. Menurut William D. Brooks dan Phillip Emmert (1976:42-43, dalam Rakhmat) ada beberapa tanda orang yang memiliki konsep diri negatif, yakni: peka terhadap kritik, responsif terhadap pujian, sikap hiperkritis, yaitu selalu mengeluh, mencela, atau meremehkan apapun dan siapapun, cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain; dan 5) bersikap pesimis terhadap kompetisi. Sebaliknya, orang yang memiliki konsep diri positif, ditandai oleh 5 hal, yakni: 1) yakin akan kemampuan mengatasi masalah; 2) merasa setara dengan orang lain; 3 )menerima pujian tanpa rasa malu; 4) menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat; 5) mampu memperbaiki dirinya karena sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya. membuka tentang pengetahuan tentang diri akan membuka komunikasi dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan mengenai diri kita. Hubungan antara konsep diri dan membuka diri dapat dijelaskan dengan Johari Window. Johari adalah singkatan dari penemu model ini: Joseph Luft and Harry Ingham. Dalam Johari Window, diungkapkan tingkat keterbukaan dan tingkat kesadaran tentang diri kita. kita ketahui tidak kita ketahui terbuka buta public tersembunyi tidak dikenal privat Johari Window daerah terbuka (open area), meliputi perilaku dan motivasi yang kita ketahui dan diketahui orang lain. Pada daerah ini kita sering melakukan pengelolaan kesan dan menampilkan diri kita dalam bentuk topeng. Segala sesuatu yang kita tutup-tutupi merupakan daerah tersembunyi (hidden area). Daerah yang tidak diketahui namun diketahui oleh orang lain merupakan daerah buta (blind area). Sementara, daerah yang tidak kita maupun orang lain ketahui merupakan daerah tidak dikenal (unknown area). Makin luas publik diri kita, makin terbuka kita pada orang lain, makin akrab pula hubungan kita dengan orang lain. 6) Percaya Diri (self confidence) Keinginan untuk menutup diri, selain karena konsep diri yang negatif, timbul dari kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan sendiri. Orang yang tidak menyenangi dirinya merasa bahwa dirinya tidak mampu mengatasi persoalan. Orang yang kurang percaya diri akan sedapat mungkin akan menghindari situasi komunikasi. Ini dikenal dengan communication apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi, akan menarik diri dari pergaulan, berusaha sekecil mungkin berkomunikasi, dan hanya akan berbicara apabila terdesak saja. Tidak semua aprehensi komunikasi disebabkan oleh kurangnya percaya diri; tetapi diantara berbagai faktor, percaya diri adalah yang paling menentukan. 7). Selektivitas Konsep diri akan mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia membuka diri, bagaimana kita mempersepsi pesan itu, dan apa yang kita ingat. Sebagai seorang penganut agama yang baik, kita akan rajin beribadah dan mendengarkan ceramah keagamaan. Ini disebut terpaan selektif. Kalau konsep diri kita negatif, kita cenderung untuk mempersepsi hanya reaksi-reaksi negatif pada diri kita, serta memperbesar kritik-kritik orang pada kita. Kita tidak akan memperhatikan penghargaan orang terhadap karya-karya kita. Ini disebut persepsi selektif. Konsep diri tidak sekedar mempengaruhi persepsi, namun juga mempengaruhi apa yang kita ingat. Ini disebut ingatan selektif. Tujuan Komunikasi interpersonal 1. Membangun/menciptakan pemahaman/pengertian bersama 2. Saling memahami รจ tidak harus menyetujui. Fungsi Komunikasi: 1. To educate : mendidik 2. To persuade : meyakinkan 3. To entertain : menghibur 4. To inform : menginformasikan Bentuk-Bentuk Komunikasi: 1. Interpersonal/tatap muka -Informal -Tanpa terencana efek yang ditimbulkan bisa ketiga-ketiganya (afeksi, kognisi, psikomotorik), karena antara yang berkomunikasi terlibat dialog batin face to face. 2. Kelompok/group -Jumlah lebih dari 2 orang - Kelas (guru & mahasiswa) -Formal 3. Massa/mass - Sekumpulan orang yang dimuat komunikator dan komunikan tidak mengenal - Kumpulan orang-orang yang tidak sama latar belakangnya terjadi sebuah tabrakan/kecelakaan banyak orang berkumpul untuk melihat, ada tukang becak, sopir, mahasis dll. Komponen-Komponen Komunikasi : a. Komunikator/Penyampai pesan/Sumber/Source Semua proses komunikasi berasal dari sumber, yang dapat berupa • perorangan , jika dalam komunikasi individual atau antar perorangan, atau seorang dengan beberapa orang • Suatu lembaga atau organisasi, atau orang yang dilembagakan (komunikasi dengan media massa) b. Pesan/Message Unsur pesan meliputi semua materi atau isi yang dikomunikasikan antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses komunikasi, baik yang disampaikan secara verbal maupun non verbal., baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui media massa misalnya) c. Saluran/Media/Channel Unsur saluran merupakan sarana tempat pesan yang disampaikan sehingga bisa diterima dan dimaknai oleh komunikan. Misalnya: media massa (surat kabar, majalah, televisi, radio dll.) telepon, surat,
d. Komunikan/Penerima pesan/Receiver
Unsur penerima merupakan sasaran dari komunikasi, bias terdiri dari seseorang atau beberapa orang atau suatu lembaga/organisasi
e. Tujuan/Destination/Efect Efek merupakan hasil dari suatu kegiatan komunikasi, merupakan tujuan dari peserta-peserta di dalam proses komunikasi. f. Umpan Balik/Feedback Feedback merupakan tanggapan atas pesan komunikan apabila tersampaikan atau disampaikan kepada komunikator g. Gangguan/Noise Gangguan tak terncana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat pesan yang diterima komunikan berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Tujuan Utama Komunikasi Adalah Untuk membangun/menciptakan pemahamam atau pengertian bersama. Saling memahami atau mengerti bukan berarti harus menyetujui tetapi mungkin dengan komunikasi terjadi suatu perubahan sikap, pendapat, perilaku ataupun perubahan secara sosial: a. Perubahan sikap (attitude change) seorang komunikan setelah menerima pesan kemudian sikapnya berubah, baik postif maupun negatif.Dalam berbagai situasi kita berusaha mempengaruhi sikap orang lain dan berusaha agar orang lain bersikap positif sesuai keinginan kita. b. Perubahan pendapat (opinion change) Dalam komunikasi berusaha menciptakan pemahaman. Pemahaman, ialah kemampuan memahami pesan secara cermat sebagaimana dimaksudkan oleh komunikator. Setelah memahami apa yang dimaksud komunikator maka akan tercipta pendapat yang berbeda-beda bagi komunikan. c.perubahan sikap (behavior change)komunikasi bertujuan untuk mengubah perilaku maupun tindakan seseorang. d.perubahan sosial (social change) membangun dan memelihara ikatan hubungan dengan orang lain sehingga menjadi hubungan yang makin baik. Dalam proses komunikasi yang efektif secara tidak sengaja meningkatkan kadar hubungan interpersonal. Manfaat Penting Komunikasi a. Penyampaian informasi (to inform) memberitahukan/menerangkan informasi atau hal-hal yang belum diketahui seseorang maupun publik terhadap apa yang terjadi kepada seseorang ataupun publik, sehingga informasi-informasi yang diberikan dapat menambah pengetahuan dan wawasan. b. pendidikan (to educate) memberikan pendidikan dan pengetahuan yang bermanfaat baik secara formal, non formal maupun informal sehingga mendorong pembentukan watak dan pendidikan keterampilan serta kemahiran yang diperlukan pada semua bidang kehidupan. c. Membujuk (to persuade) Membujuk, mempengaruhi atau membentuk suatu opini seseorang maupun publik, meyakinkan tentang informasiinformasi yang diberikannya sehingga benar-benar mengetahui situasi yang terjadi di lingkungannnya c. Menghibur (to entertaint) memberikan hiburan atau kesenangan, sehingga seseorang maupun publik memperoleh selingan dari kejenuhan yang dialaminya karena takanan-tekanan baik dalam pekerjaan, pergaulan dan lainlain yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk-Bentuk Komunikasi 1. Komunikasi Personal • Komunikasi Intrapersona: proses komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang Contoh: Seseorang sedang duduk menyendiri merenungi nasibnya, secara fisik ia diam saja seperti tidak melakukan komunikasi, tetapi di dalam dirinya berlangsung proses komunikasi dengan dirinya sendiri. • Komunikasi Antarpersona: proses komunikasi yang berlangsung antara individu satu dengan individu lain. Contoh: Seseorang bertemu dengan teman lama kemudian saling bertukar cerita, berbagi. 2. Komunikasi Kelompok: proses komunikasi yang berlangsung pada suatu kelompok manusia. • Komunikasi Kelompok Kecil: proses komunikasi yang berlangsung dan dimungkinkan terjadi dialogis Contoh: ceramah, diskusi panel, simposium, forum, seminar, kuliah • Komunikasi Kelompok Besar: proses komunikasi yang berlangsung dan tidak dimungkinkan terjadi dialogis Contoh: kampanye, rapat raksasa, demonstrasi mahasiswa 3. Komunikasi Massa: jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonym melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. 4. PEMBAHASAN Dari pembahasan mengenai keampuhan Komunikasi Interpersonal sebagai agent of change tersebut di atas sudah dapat kita prediksi dari Komunikasi Interpersonal yaitu efek yang diharapkan dari proses berlangsungnya Komunikasi Interpersonal. Adapun hal-hal yang dapat diprediksi dalam Komunikasi Interpersonal dapat kita tinjau dari tiga sudut : • Prediksi analisis sosiologis. Yaitu mengukur dan memperkirakan keberhasilan/efek dari Komunikasi Interpersonal melalui analisis sosiologi. Seperti kita ketahui sosiologi adalah ilmu mengkaji interaksi sosial, klasifikasi sosial, kelompok dan pranata sosial. • Prediksi analisis kultur. Yaitu Komunikasi Interpersonal diprediksi dari segi pola pikir, pola perilaku sistem nilai, dan pola kebiasaan dalam proses komunikasinya terutama ditujukan pada komunikannya. • Prediksi pendekatan sosiologis. • Yaitu mengukur dan memperkirakan keberhasilan/efek dari Komunikasi Interpersonal dikaitkan dengan lingkungan social atau kajian konteks sosial dari proses Komunikasi Interpersonal. 5. KESIMPULAN • Tujuan utama komunikasi adalah untuk membangun/menciptakan pemahamam atau pengertian bersama. Saling memahami atau mengerti bukan berarti harus menyetujui tetapi mungkin dengan komunikasi terjadi suatu perubahan sikap, pendapat, perilaku ataupun perubahan secara social • Manfaat komunikasi interpersonal untuk pergaulan adalah mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang atau juga bias dikatakan cara mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang yang berkomunikasi tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman karena berbeda pendapat.
Unsur penerima merupakan sasaran dari komunikasi, bias terdiri dari seseorang atau beberapa orang atau suatu lembaga/organisasi
