BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan jasa fotografi di Kota
Samarinda mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Kota Samarinda dinilai
sebagai kota yang memiliki nilai pasar yang cukup menarik para produsen industri foto untuk mengembangkan
bisnisnya. Ketertarikan produsen tersebut dipicu oleh tingginya minat konsumen, kemampuan atau daya beli,
minat konsumen dan daya
beli yang baik. Namun di satu sisi hal ini juga memancing persaingan yang
sangat kompetitif diantara produsen.
Dari pengamatan yang dlakukan oleh penulis pada
industri fotografi khususnya di Samarinda produsen tergolong menjadi dua kelompok, yaitu : studio
foto dan fotografer freelance. Dari sini bisa dlihat pola persaingan
menjadi berkembang cukup luas yaitu : antara studio foto yang satu dengan
studio foto lainnya, studio foto dengan fotografer freelance dan
diantara sesama fotografer freelance.
Menurut Ignasius Untung, seorang pengamat fotografer
professional, perkembangan industri fotografi di Indonesia terbilang
unik. Pada industri ini persaingan menumpuk pada level basic dan advance
(Sumber : The Light Magazine), sangat banyak para pemula yang bermain di level produk yang masih
rendah, hal ini disebabkan karena keterbatasan para pemain di level tersebut
untuk meningkatkan kualitas produknya, demikian pula hal ini terjadi di Samarinda.
Disamping itu konsumen juga masih memiliki kemampuan yang terbatas untuk
menilai kualitas produk foto yang baik, sementara di level professional pemain
masih cenderung sedikit dan kompetisi masih belum begitu ketat, dan di dukung
oleh konsumen yang lebih
sfesifik.
Studio foto dewasa ini sudah mulai di kelola secara
lebih khusus dengan lebih professional dan manajemen yang baik, sebagai
organisasi bisnis, agar tetap bertahan dan mampu bersaing dengan kompetitor
perlu melakukan upaya untuk mengelola sumber daya yang dimiliki terutama sumber
daya manusia yang sampai saat ini masih menjadi penentu keberhasilan
perusahaan.
Faktor manusia sangat berperan dalam pencapaian
tujuan organisasi. Sumber daya terpenting dalam organisasi adalah sumber daya
manusia. Posisi manusia sebagai bagian terpenting dan esensial dalam menjapai
tujuan akhir dari sebuah corporasi. Terlebih dalam usaha studio foto ini dimana
peran manusia memiliki fungsi yang sangat strategis, dimana hampir semua
kegiatan dalam usaha studio foto
memerlukan manusia sebagai komponen yang paling penting.
Pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan
akan sangat bergantung pada berperannya pimpinan. Pimpinan mempunyai peranan
penting karena besarnya tanggung jawab dalam memimpin dan menjamin kelancaran
tugas para karyawan. Pimpinan dan karyawan sebagai sumber daya manusia dalam organisasi
memiliki kiat pengelolaan suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan.
Tenaga kerja merupakan aset bagi sebuah perusahaan.
Organisasi sebagai bentuk persekutuan dua orang atau lebih yang bekerja sama
perlu meningkatkan kinerja karyawan dalam upaya mencapai tujuannya. Peningkatan
kinerja karyawan akan berdampak pada pencapaian efektivitas dan efisiensi organisasi.
Produktivitas kerja karyawan Studio 5 photography semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan
kemampuan karyawan dalam melaksanakan tugas pekerjaan tepat pada waktunya,
tingkat absensi karyawan per bulan yang dulunya mempunyai absensi rata- rata
3-4 kali perbulan per karyawan menjadi 1-2 kali perbulan per karyawan, dan
ketepatan waktu karyawan dalam masuk kerja. Studio 5 photography
perlu lebih meningkatkan produktivitas
kerja karyawannya, apalagi sebagai salah satu usaha yang bergerak dibidang jasa
pelayanan, kompensasi bagi karyawan biasanya berdasarkan kepangkatan dan
senioritas dalam bentuk bonus, insentif dan penghargaan kepada karyawan yang
berprestasi.
Seiring dengan perkembangan zaman, gaya kepemimpinan
yang telah mengalami perubahan yaitu pimpinan lebih menghargai dan terbuka
terhadap masukan yang diberikan karyawan sehingga kerja sama yang berlangsung
secara timbal balik. Tidak seperti perusahaan berbentuk perseroan terbatas (PT)
yang kepemilikanya hanya oleh pemodal tertentu, sejak awal pendirianya
Bumiputera sudah menganut sistem kepemilikan dan penguasaan yang unik, yakni
bentuk badan usaha mutual atau usaha bersama.
Upaya pimpinan dalam meningkatkan kinerja karyawan
ini tidak terlepas dari adanya komunikasi. Komunikasi merupakan faktor penting
kehidupan suatu organisasi baik organisasi yang dilakukan oleh pimpinan
terhadap karyawan maupun komunikasi yang dilakukan oleh karyawan itu sendiri.
Peran pimpinan dalam mengerakkan sumber daya yang ada sangat menentukan terhadap
sukses tidaknya organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya.
Tujuan memilih teknik ini adalah memperoleh efek
yang langsung atau tahan lama sesuai dengan yang diinginkan komunikator. Komunikasi persuasifdisini lebih mengarah pada
kegiatan psikologis, suatu teknik komunikasi yang memiliki aspek-aspek
manusiawi.
Beberapa teknik dalam komunikasi persuasif yang
dikemukakan oleh Effendy (1992: 22) yaitu: Pertama, Teknik Integrasi adalah
kemampuan komunikator untuk menyatukan diri secara komunikatif dengan
komunikan.
Kedua, Pay-Off
Idea adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara mengiming-
ngiming hal yang menguntungkan atau yang menjanjikan harapan. Ketiga, Iching
Device yaitu menata pesan komunikasi dengan himbauan emosional sedemikian
rupa sehingga komunikan menjadi lebih tertarik.
Adanya komunikasi persuasif yang diterapkan di
lingkungan kerja Studio 5 photography Samarinda ini adalah mempererat hubungan
pimpinan dan karyawan yang secara tidak langsung akan mampu meningkatkan
kinerja karyawan. Dari latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk
mengambil judul penelitian Penerapan Komunikasi Persuasif Terhadap Budaya
Kerja Karyawan Studio 5 photography
Samarinda karena didalam suatu perusahaan,
komunikasi itu sangat penting. Seperti yang
dijelaskan oleh Lindgren (dalam Effendy, 2001: 17) yang menyatakan bahwa Effective
Leadership Means Effective Communication . Seorang pimpinan harus mampu
melaksanakan komunikasi secara efektif jika ingin melaksanakan kepemimpinan
yang efektif. Seorang pimpinan berkomunikasi efektif bila ia mampu membuat para
karyawan melakukan kegiatan tertentu dengan kesadaran, kegairahan, dan
kegembiraan. Suasana seperti itu diharapkan dapat meningkatkan kinerja yang
tinggi.
1.2.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang ini, serta untuk
mengetahui ssecara lebih lanjut tentang komunikasi dan juga kinerja karyawan,
maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana
pola hubungan kerja karyawan Studio 5 photography dengan pimpinan Perusahaan.
2. Apakah
komunikasi kerja yang dibangun dalam Studio 5 photography sudah bisa berjalan dengan baik.
3. Sampai
sejauhmana peningkatan budaya kerja dan kinerja karyawan Studio 5 photography dalam menjalankan aktifitas kerja.
1.3. TUJUAN
PENELITIAN
Tujuan
yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Ingin
mengetahui apakah ada pola hubungan karyawan dan pimpinan di Studio 5
photography.
2. Ingin
melihat besar efektifitas penggunaan komunikasi
Persuasive Pimpinan Studio 5 photography terhadap upaya peningkatan budaya kerja dan
kinerja karyawan.
3. Ingin
mengetahui apakah pendekatan komunikasi persuasive sudah sesuai yang diharapkan
oleh karyawan Studio 5 photography Samarinda.
1.4.
MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang
didapat dalam kegiatan penelitian ini adalah :
1.
Bagi
Studio 5 photography photograpi untuk
mengetahui bagaimana proses dan keberhasilan pendekatan antara karyawan dan
pimpinan melalui komunikasi persuasive yang dibangun dilingkungan kerja.
2.
Untuk memperkaya literature khususnya
dibidang komunikasi dengan kaitannya dengan kegiatan usaha Jasa khususnya
Studio Foto.
3.
Bagi penulis Merupakan suatu sarana
untuk menerapkan ilmu pegetahuan yang diperolah selama kuliah, khususnya pada
masalah yang terkait dengan masalah komunikasi perusahaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Teori dan Konsep
Dalam
sebuah penelitian ilmiah, diperlukan adanya teori-teori sebagai landasan konsep
yang akan diajukan. Berikut beberapa pengertian dari teori-teori yang dapat
dijadikan acuan dalam penelitian ini.
Beberapa kerangka teori yang akan digunakan dalam
menganalisis permasalahan utama dalam penelitian ini antara lain :
2.1.1
Strategi
Komunikasi
Prof. Dr. Onong Uchjana Effendy
menjelaskan bahwa : Strategi komunikasi adalah paduan dari perencanaan
komunikasi (communication planning) dan manajemen komunikasi (communication
management) untuk mencapai suatu tujuan komunikasi. Strategi komunikasi
tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk arah komunikasi, tetapi juga menunjukkan
bagaimana taktik operasional komunikasi.
Kutipan di atas menunjukkan bahwa
strategi komunikasi merupakan bagian dari konsep manajemen komunikasi dalam
pencapaian tujuan yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi
harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara praktis harus
dilakukan. Strategi komunikasi juga menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan
komunikasi secara efektif. Lebih lanjut, Onong Uchjana Effendy menjelaskan
bahwa : Strategi komunikasi mempunyai fungsi untuk menyebarluaskan pesan
komunikasi yang bersifat informatif, persuasif, dan instruktif, secara
sistematis kepada sasaran untuk memperoleh hasil yang optimal dan menjembatani
kesenjangan budaya akibat kemudahan diperolehnya dan dioperasionalkannya media
masa yang begitu ampuh, yang jika dibiarkan akan merusak nilai-nilai budaya.
Beliau juga mengemukakan beberapa
komponen-komponen dalam strategi komunikasi, antara lain:
1) Mengenali
sasaran komunikasi.
Sebelum melancarkan komunikasi perlu
dipelajari siapa saja yang akan menjadi sasaran komunikasi. Mengenali sasaran
komunikasi bergantung pada tujuan komunikasi, apakah agar komunikan hanya sekedar
mengetahui (dengan metode informatif) atau agar komunikan melakukan tindakan
tertentu (metode persuasif atau instruktif). Onong Uchjana Effendy; Ilmu Komunikasi
(Teori dan Praktek); PT Remaja Rosdakarya; Bandung; 1992; hal. 32.
2) Pemilihan
media komunikasi
Untuk mencapai sasaran komunikasi
komunikator harus dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa media
komunikasi, tergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan
dan teknik yang akan digunakan. Pemilihan media komunikasi di sini yang
digunakan dalam berkomunikasi berupa bahasa.
Pesan dalam bahasa yang disampaikan ini
bisa berupa pesan verbal dan pesan non verbal. Pesan yang berbentuk verbal ini
berupa pesan yang dapat diuraikan dalam bentuk kata–kata yang biasa diwujudkan
dalam bentuk lisan maupun tulisan. Sedangkan pesan yang berupa non verbal ini
berbentuk gerak tubuh, ekspresi wajah ,tekanan suara, bau dan lainnya. Komunikasi
non verbal juga efektif bila komunikasi verbal sulit diterapkan dalam proses
pendidikan anak autisme.
3) Pengkajian
tujuan pesan komunikasi
Pesan komunikasi mempunyai tujuan
tertentu. Ini menentukan teknik yang harus diambil, apakah itu teknik
informasi, teknik persuasi, atau teknik instruksi. Pesan komunikasi terdiri
atas isi pesan dan lambang. Isi pesan komunikasi bisa satu, tetapi lambang yang
digunakan bisa bermacam-macam. Lambang yang bisa dipergunakan untuk
menyampaikan isi pesan adalah bahasa, gambar, warna dan lain-lain.
2.1.2 Komunikasi
Persuasif
Ronald L. Applbaum dan Karl W.E Anatol (1974:12)
dalam Komunikasi Persuasif mendefinisikan komunikasi persuasif sebagai berikut
: Komunikasi yang kompleks ketika individu atau kelompok mengungkapkan pesan
(sengaja atau tidak sengaja) melalui caracara verbal dan non verbal untuk
memperoleh respon tertentu dari individu atau kelompok lain.
Adapun Dedy Djamaluddin menjelaskan sebagai berikut
: ”Komunikasi persuasif adalah
komunikasi yang bersifat mempengaruhi tindakan, perilaku, pikiran dan pendapat
tanpa dengan cara paksaan, baik itu fisik maupun non-fisik”.
Kedua kutipan di atas dapat dijelaskan lebih lanjut
bahwa dalam berkomunikasi persuasif, argumen komunikator seyogyanya masuk akal atau
logis, sehingga komunikan merasa yakin akan pesan persuasif yang disampaikannya
dan akhirnya mau berperilaku sesuai kehendak komunikator. Karakteristik
komunikator sangat penting untuk mencapai tujuan persuasifnya, sebab yang
berpengaruh bukan hanya pesan persuasifnya saja, tetapi kondisi komunikator
juga turut berpengaruh. Komunikator tidak akan dapat mempengaruhi atau bahkan
merubah sikap, tindakan dan pendapat seseorang hanya dengan mengatakannya saja.
2.1.2.1
Karakteristik
Komunikator Dalam Proses Persuasif
Efektifitas dan keberhasilan komunikasi persuasif
tidak bisa lepas dari kredibilitas komunikator dan kepiawaiannya mengemas
pesan-pesan yang meyakinkan audiens (komunikan) tentang kebenaran dan
pentingnya pesan yang ia sampaikan. Memang, dalam sebuah proses komunikasi, pesan
yang diterima audiens bukan hanya ditentukan oleh isi pesannya saja, melainkan
oleh berbagai faktor, dan faktor tersebut yang terpenting adalah komunikator.
Aristoteles mengatakan bahwa komunikator pada hakikatnya tidak hanya
mengkomunikasikan sebuah pesan, tetapi dirinya sendiri adalah pesan itu
sendiri. Sesungguhnya ada 3 komponen dalam karakteristik sumber atau
komunikator, yaitu credibility, attractiveness dan power (kekuasaan),
yang dapat dijelaskan sebagai berikut
1) Credibility
(kredibilitas)
Kredibilitas adalah
seperangkat persepsi komunikan tentang sifat-sifat komunikator, meliputi :
a.
Kredibilitas adalah persepsi komunikan.
b.
Kredibilitas berkenaan dengan
sifat-sifat komunikator yang selanjutnya disebut dengan komponen-komponen
kredibilitas. Komponen-komponen kredibilitas terdiri dari 2 hal yang paling penting,
yaitu keahlian dan kepercayaan. Keahlian adalah kesan yang dibentuk komunikan
tentang kemampuan komunikator dalam hubungannya dengan topik yang dibicarakan.
Komunikator yang dinilai tinggi dianggap sebagai cerdas, mampu, ahli dan berpengalaman.
Kepercayaan adalah kesan komunikan tentang komunikator yang berkaitan dengan
wataknya, apakah komunikator dinilai jujur, tulus, bermoral, adil, etis atau
bahkan sebaliknya. Karena kredibilitas
itu masalah persepsi, jadi kredibilitas dapat berubah-ubah tergantung pada
pelaku persepsi atau komunikan, topic yang dibahas dan situasi pada penyampaian
pesan. Kredibilitas seorang komunikator dapat berubah bila terjadi perubahan
khalayak, topik dan waktu. Koehler, Annatol, dan Applbaum (1978:144-147) menambahkan
4 komponen dalam kredibilitas yaitu:21
(1)
Dinamisme, komunikator memiliki
dinamisme bila dipandang sebagai bergairah, bersemangat, aktif, tegas dan
berani.
(2)
Sosialbilitas, kesan komunikan tentang
komunikator sebagai orang yang periang dan senang bergaul.
(3)
Kooreientasi, merupakan kesan komunikan
tentang komunikatorsebagai orang yang mewakili kelompok yang disenangi
danmewakili nilai-nilai.
(4)
Karisma, digunakan untuk menunjukkan
suatu sifat yang luar biasa dimiliki oleh komunikator yang menarik dan
mengendalikan komunikan seperti magnet menarik benda-benda sekitarnya.
2) Attractiveness
(atraksi)
Atraksi
ini lebih kepada bentuk fisik, daya tarik fisik, ganjaran, kesamaan dan
kemampuan. Atraksi fisik menyebabkan komunikator menarik dan karena ia menarik
sehingga mempunyai daya persuasif. Daya tarik fisik ini dapat berupa paras
wajah yang cantik atau tampan dan dalam berpakaian. Sedangkan yang dimaksud
dengan kesamaan adalah kesamaan sikap dan kepercayaan. Seseorang akan mudah
berempati dan merasakan perasaan orang lain yang dipandangnya sama dengan dirinya,
yang dapat berupa kepercayaan, sikap, maksud dan nilai-nilai sehubungan dengan
suatu persoalan.
3) Power
(kekuasaan)
Kekuasaan
adalah kemampuan untuk menimbulkan ketundukan.Kekuasaan menyebabkan seorang
komunikator dapat memaksakan kehendaknya pada orang lain karena ia mempunyai
sumber daya yang penting. Berdasarkan sumber daya yang dimiliki seorang
komunikator, kekuasaan dapat dibedakan sebagai berikut :
a)
Kekuasaan koersif
Kemampuan komunikator untuk mendatangkan
ganjaran atau hukuman pada komunikan. Ganjaran dan hukuman itu dapat berupa
personal misalnya benci dan suka atau impersonal, misalnya pemecatan dan
kenaikan pangkat.
b)
Kekuasaan keahlian
Kekuasaan ini berasal dari pengetahuan,
pengalaman, ketrampilan dan keahlian yang dimiliki oleh komunikator. Misalnya
seorang guru memberikan pekerjaan rumah kepada muridnya untuk lebih memahami
mata pelajaran yang telah disampaikan di kelas.
c)
Kekuasaan rujukan
Di sini komunikan menjadikan komunikator
sebagai kerangka rujukan untuk menilai dirinya, komunikator dikatakanmemiliki
kekuasaan rujukan bila ia berhasil menanamkan kekaguman pada komunikan.
d)
Kekuasaan legal
Kekuasaan ini berasal dari seperangkat
peraturan atau norma yang menyebabkan komunikator berwenang untuk melakukan
suatu tindakan. Seperti Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota dan lain
sebagainya.
Kekuasaan timbul dari interaksi antara komunikator
dengan komunikan. Jenis apapun kekuasaan yang dipergunakan, kekuasaan adalah
pengaruh yang paling lemah dibandingkan dengan kredibilitas dan atraksi,
sehingga selayaknya kekuasaan digunakan setelah kredibilitas dan atraksi
berhasil diterapkan pada komunikan.
2.1.2.2
Proses
Komunikasi Persuasif
Komunikasi persuasif
terdiri dari beberapa proses sebagai berikut:
1)
Landasan sikap
Menurut Martin Fisbein, sikap adalah
suatu kecenderungan untuk memberikan reaksi yang menyenangkan, tidak menyenangkan
atau netral terhadap suatu obyek atau sekumpulan obyek. Komunikator harus
menghubungkan pesannya dengan memotivasi faktor-faktor dalam pikiran komunikan.
Jika komunikator menginginkan suatu sikap positif terhadap komunikan maka
hubungkan dengan pemenuhan kebutuhan, tujuan dan ungkapan nilai-nilai yang
mendasar. Terdapat empat macam argumen yang membentuk hubungan antara faktor
motivasi dengan obyek persuasi, yaitu :
a)
Argumen kontigensi
Hubungan kontigensi adalah sebab-akibat
atau juga disebut hubungan kemungkinan. Persuasi yang dilakukan dengan cara ini
diambil dari pemikiran bahwa tanggapan yang benar terhadap obyek komunikasi
akan menghasilkan pemuasan kebutuhan, pencapaian tujuan atau ungkapan nilai.
Setiap komunikasi persuasif dalam menggunakan fakta-fakta untuk membangun mata
rantai sebab-akibat antara komunikator dengan memotivasi komunikan maka
komunikator tersebut menggunakan hubungan kontigensi.
b)
Argumentasi kategorisasi
Argumen kategorisasi adalah bagian dari
seluruh argumentasi dengan cara mendahulukan alasan-alasan kemudian disusul dengan
tujuan dari proses komunikasi tersebut. Sebagai contoh seorang pedagang
memberikan alasan ”kalau ingin barang yang lebih bagus mutunya” dan
dilanjutkan dengan ”harus memilih barang yang harganya lebih mahal”. Berarti
pedagang tersebut menggunakan argumentasi kategorisasi.
c) Argumentasi
persamaan atau perbandingan
Argumentasi ini menghubungkan komunikan
dengan obyek lain yang diketahui oleh komunikator sehingga komunikan akan
memandang komunikator sebagai orang yang menyenangkan. Misalnya : seorang
pedagang membandingkan merk produk yang laku keras di pasaran dengan merk
produk yang akan dibeli oleh konsumen.
d) Argumentasi
koinsidental
Argumentasi koinsidental adalah argumen
yang dipandang sebagai kebiasaan. Argumentasi ini tidak dapat dibentuk dengan
pembuktian dan penataran, akan tetapi berkaitan dengan penyajian obyek persuasi
atau komunikan dan pesanpesan motivasi didalam konteks yang sama.
2.1.2.3
Media Komunikasi Persuasif
Didalam komunikasi persuasif, juga dikenal adanya
beberapa media, yaitu:
1.
Verbal Komunikasi verbal adalah
komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata yang dinyatakan secara
oral atau lisan maupun secara tertulis. Komunikasi verbal merupakan
karakteristik khusus manusia, tidak ada makhluk lain yang dapat menyampaikan macam-macam
arti melalui kata-kata. Kata-kata dapat juga dimanipulasi untuk menyampaikan
secara eksplisit sejumlah arti.
Kata-kata yang disebut juga dengan bahasa dapat
didefinisikan menjadi 2, yaitu fungsional dan formal:
a.
Fungsional Melihat bahasa dari segi
fungsinya, sehingga diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk
mengungkapkan gagasan atau ide. Bahasa hanya dapat dipahami bila ada
kesepakatan diantara anggota-anggota kelompok sosial. Bahasa juga diberi arti
secara arbiter (semaunya) oleh kelompok-kelompok social tertentu.
b.
Formal Menyatakan bahasa sebagai semua
kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa. Dedi
(2001) mengatakan Setiap bahasa mempunyai peraturan-peraturan sendiri bagaimana
kata-kata harus disusun dan dirangkaian agar dapat memberikan arti.
Bahasa
dalam proses komunikasi harus dapat dipahami dan mempunyai kesamaan makna oleh
kedua belah pihak antara komunikator dan komunikan. Kesamaan terjadi bila
komunikator dan komunikan berasal dari kebudayaan, status sosial, pendidikan dan
ideologi yang sama, maksimal mempunyai sejumlah pengalaman yang sama.
Ada tiga fungsi bahasa
dalam proses komunikasi persuasif, antara lain:
1)
Bahasa untuk menyatakan diri Berbagai
cara yang menjadi kebiasaan seseorang dalam berbahasa telah tertanam secara
mendalam di alam bawah sadar, sehingga bahasa mencerminkan struktur diri dan
pandangan seseorang. Namun sebenarnya, karena ”diri” seseorang tersusun dari
banyak ”diri” yang berbeda, yang masing-masing mewujudkan dirinya sendiri pada
setiap waktu dengan berbagai cara, maka terdapat beberapa aspek penggunaan
bahasa yang secara sadar berubah-ubah dari satu pembicaraan ke pembicaraan
lainnya, dari satu situasi ke situasi lainnya.
2) Bahasa
untuk mengkomunikasikan makna Fungsi kedua ini adalah untuk membantu komunikan
memahami makna pesan setepat mungkin.
3) Bahasa
untuk mengkomunikasikan perasaan dan nilai Fungsi yang ketiga ini adalah untuk
membantu komunikator mengisyaratkan pada komunikan suatu perasaan, sikap dan
nilai yang diutarakan komunikator tersebut.
2.
Non-verbal
Komunikasi non-verbal adalah penciptaan dan
pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata, komunikasi ini menggunakan
gerakan tubuh, sikap tubuh, intonasi nada (tinggirendahnya nada), kontak mata,
ekspresi muka, kedekatan jarak dan
sentuhan-sentuhan.
Komunikasi non verbal ini paling banyak pengaruhnya dalam proses komunikasi
persuasif, karena dalam prosesnya komunikan lebih banyak dan lebih mempercayai
tandatanda non-verbal daripada verbal. Menurut
Mark L. Knapp, fungsi komunikasi non-verbal dalam hubungannya dengan komunikasi
verbal, dibagi menjadi
lima,
antara lain :
a.
Repetisi Mengulang kembali gagasan atau
ide yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya : setelah menjelaskan
penolakan makan biasanya disusul dengan menggelengkan kepala berkali-kali.
b.
Substitusi Menggantikan komunikasi
verbal. Misalnya bila menunjukkan persetujuan, maka akan menganggukkan kepala.
c.
Kontradiksi Menolak pesan verbal atau
memberikan makna lain terhadap komunikan. Misalnya memuji prestasi teman tetapi
dengan mencibirkan bibir.
d.
Komplemen Melengkapi dan memperkaya
pesan non-verbal. Misalnya bila terluka, maka mimik wajah akan memberikan makna
sesakit apa luka itu diderita.
e.
Aksentuasi Menegaskan pesan verbal atau
menggarisbawahinya. Misalnya, betapa jengkelnya komunikator terhadap komunikan
sambil memukul meja.
f.
Bentuk Komunikasi Persuasif Bentuk
komunikasi persuasif yang dilakukan oleh Da’i Abdul Haq S.Ag dalam penelitian
ini adalah secara tatap muka atau bentuk komunikasi antar pribadi. Komunikasi
antar pribadi sebenarnya adalah bukan sekadar komunikasi yang terjalin antara
dua orang tanpa perantara media (face to face). Burgoon dan Ruffner
(1978) mengatakan bahwa komunikasi antar pribadi harus dibedakan dari berbicara
di muka umum maupun komunikasi di dalam kelompok.
Komunikasi antar pribadi juga harus mampu
mencerminkan bahwa manusia yang berkomunikasi mampu mengekspresikan kehangatan,
keterbukaan, dukungan terhadap pihak yang sedang diajak berkomunikasi.
Sebagaimana penjelasan diatas, ada tujuh sifat yang menunjukkan
bahwa suatu komunikasi antara dua individu merupakan komunikasi antar pribadi
(Liliweri, 1991). Sifat-sifat komunikasi antar pribadi itu adalah :
1. Melibatkan
di dalamnya perilaku verbal dan non verbal.
2. Melibatkan
perilaku spontan, tepat, dan rasional.
3. Komunikasi
antar pribadi tidaklah statis, melainkan dinamis.
4. Melibatkan
umpan balik pribadi, hubungan interaksi, dan koherensi (pernyataan yang satu
harus berkaitan dengan yang lain sebelumnya).
5. Komunikasi
antar pribadi dipandu oleh tata aturan yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik.
6. Komunikasi
antar pribadi merupakan suatu kegiatan dan tindakan.
7. Melibatkan
di dalamnya bidang persuasif. (Lita (2004)
2.1.3
Budaya Kerja
Budaya berasal dari bahasa sansakerta “budhayah”
sebagai bentuk jamak dari kata dasar “budhi” yang artinya akal atau segala
sesuatu yang berkaitan dengan akal pikiran, nilai-nilai dan sikap mental
(Kepmenpan No. 25/KEP/M.PAN/04/2002). Budidaya berarti memberdayakan budi
sebagaimana dalam bahasa Inggris di kenal sebagai culture (latin –
cotere) yang semula artinya mengolah atau mengerjakan sesuatu (mengolah tanah
pertanian), kemudian berkembang sebagai cara manusia mengaktualisasikan nilai (value),
karsa (creativity), dan hasil karyanya (performance). Budidaya
dapat juga diartikan sebagai keseluruhan usaha rohani dan materi termasuk
potensi-potensi maupun keterampilan masyarakat atau kelompok manusia. Budaya
selalu bersifat sosial dalam arti penerusan tradisi sekelompok manusia yang
dari segi materialnya dialihkan secara historis dan diserap oleh
generasi-generasi menurut “nilai” yang berlaku.
Nilai disini adalah ukuran-ukuran yang tertinggi
bagi perilaku manusia. Slocum (1995) dalam West (2000:128) mendefinisikan
budaya sebagai asumsi-asumsi dan pola-pola makna yang mendasar, yang dianggap
sudah selayaknya dianut dan dimanifestasikan oleh semua fihak yang
berpartisipasi dalam organisasi. Budaya diartikan juga sebagai seperangkat
perilaku, perasaan dan kerangka psikologis yang terinternalisasi sangat
mendalam dan dimiliki bersama oleh anggota organisasi. Sehingga untuk merubah
sebuah budaya harus pula merubah paradigma orang yang telah melekat.
Pada bagian lain Ellyana (2008) memandang budaya sebagai sesuatu yang
mengacu pada nilai-nilai, keyakinan, praktek, ritual dan kebiasaan-kebiasaan
dari sebuah organisasi. Dan membantu membentuk perilaku dan menyesuaikan
persepsi. Pentingnya budaya dalam mendukung keberhasilan satuan kerja menurut
Newstrom dan Davis (1993:58-59); budaya memberikan identitas pegawainya, budaya
juga sebagai sumber stabilitas serta kontinyuitas organisasi yang memberikan
rasa aman bagi pegawainya, dan yang lebih penting adalah budaya membantu
merangsang pegawai untuk antusias akan tugasnya.
Sedangkan tujuan fundamental budaya adalah untuk
membangun sumber daya manusia seutuhnya agar setiap orang sadar bahwa mereka
berada dalam suatu hubungan sifat peran sebagai pelanggan pemasok dalam
komunikasi dengan orang lain secara efektif dan efisien serta menggembirakan
(Triguno, 2004:6).
Secara sederhana kerja didefiniskan sebagai segala
aktivitas manusia mengerahkan energi bio-psiko-spiritual dirinya dengan tujuan
memperoleh hasil tertentu (Sinamo. JH,. 2002:43). Menurut Hasibuan (2000:47) kerja adalah
pengorbanan jasa, jasmani, dan pikiran untuk menghasilkan barang-barang atau
jasa-jasa dengan memperoleh imbalan prestasi tertentu.
Kerja perlu diartikan sebagai kegiatan luhur
manusia. Bukan saja karena kerja manusia dapat bertahan hidup tetapi juga kerja
merupakan penciptaan manusia terhadap alam sekitarnya menjadi manusiawi. Dengan
demikian kerja juga merupakan realisasi diri.
Pada hakekatnya bekerja merupakan bentuk atau cara manusia untuk
mengaktualisasikan dirinya. Bekerja merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai,
keyakinan-keyakinan yang dianutnya dan dapat menjadi motivasi untuk melahirkan
karya yang bermutu dalam pencapaian suatu tujuan (Kepmenpan No.
25/KEP/M.PAN/04/2002).
Dalam agama Islam bekerja adalah ibadah, perintah
Tuhan atau panggilan mulia. Sinamo (2002:71) membagi kerja dalam delapan
doktrin yaitu kerja sebagai rahmat, kerja adalah amanah, kerja adalah
panggilan, kerja adalah aktualisasi, kerja adalah ibadah, kerja adalah seni,
kerja adalah kehormatan, kerja adalah pelayanan. Sedangkan Dostoyevsky dalam Ellyana
(2008) mengganti istilah kerja dengan kata “pembelajaran”.
Bagaimana dengan budaya kerja? Sebenarnya budaya
kerja sudah lama dikenal oleh manusia, namun belum disadari bahwa suatu
keberhasilan kerja berakar pada nilai-nilai yang dimiliki dan perilaku yang
menjadi kebiasaan. Nilai-nilai tersebut bermula dari adat istiadat, agama,
norma dan kaidah yang menjadi keyakinan pada diri pelaku kerja atau organisai.
Nilai-nilai yang menjadi kebiasaan tersebut dinamakan budaya dan mengingat hal
ini dikaitkan dengan mutu kerja, maka dinamakan budaya kerja. (Triguno, 2004:1)
Budaya kerja merupakan suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup
sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan
pendorong,membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi
yang tercermin dari sikap menjadi perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat
dan tindakan yang terwujud sebagai “kerja atau bekerja”. (Triguno, 2004).
Budaya kerja adalah cara kerja sehari-hari yang bermutu danselalu mendasari
nilai-nilai yang penuh makna, sehingga menjadi motivasi, memberiinspirasi,
untuk senantiasa bekerja lebih baik, dan memuaskan bagi masyarakatyang dilayani
(Kepmenpan Nomor 25/KEP/M.PAN/04/2002). Sedangkan menurut Sulaksono, (2002)
budaya kerja adalah ‘the way we are doing here” artinya sikap dan
perilaku pegawai dalam melaksanakan tugas. Dengan demikian, maka setiap fungsi
atau proses kerja harus mempunyai perbedaan dalam cara bekerjanya, yang
mengakibatkan berbedanya pula nilai-nilai yang sesuai untuk diambil dalam
kerangka kerja organisasi.
Seperti nilai-nilai apa saja yang sepatutnya
dimiliki, bagaimana perilaku setiap orang akan dapat mempengaruhi kerja mereka,
kemudian falsafah yang dianutnya seperti “budaya kerja” merupakan suatu proses
tanpa akhir” atau “terus menerus”. Biech dalam Triguno (2004:31) bahwa semuanya
mempunyai arti proses yang panjang yang terus menerus disempurnakan sesuai
dengan tuntutan dan kemampuan SDM itu sendiri sesuai dengan prinsip pedoman
yang diakui.
Dari berbagai pengertian tentang budaya kerja dapat
disimpulkan bahwa budaya kerja adalah cara pandang yang menumbuhkan keyakinan
atas dasar nilainilai yang diyakini pegawai untuk mewujudkan prestasi kerja
terbaik.
2.1.3.1 Terbentuknya
Budaya Kerja
Budaya kerja terbentuk begitu satuan kerja atau
organisasi itu berdiri. “being developed as they learn to cope with problems
of external adaption and internal integration” artinya pembentukan
budaya kerja terjadi tatkala lingkungan kerja atau organisasi belajar
menghadapi masalah, baik yang menyangkut perubahan-perubahan ekternal maupun
internal yang menyangkut persatuan dan keutuhan organisasi (Sithi- Amnuai,
Ndraha, 2003:76). Perlu waktu bertahun bahkan puluhan dan ratusan tahun untuk
membentuk budaya kerja. Pembentukan budaya di awali oleh (para) pendiri (founders)
atau pimpinan paling atas (top management) atau pejabat yang
ditunjuk, dimana besarrnya pengaruh yang
dimilikinya akan menentukan suatu cara tersendiri apa yang dijalankan dalam
satuan kerja atau organisasi yang dipimpinnya. Gambar berikut merupakan proses
terbentuknya budaya kerja dalam satuan kerja atau organisasi.
Gambar
2.1 Proses
Terbentuknya Budaya Kerja

Sumber
: Robbins (1996:302)
Robbins (1996:301-302) menjelaskan bagaimana budaya
kerja di bangun dan dipertahankan ditunjukkan dari filsafat pendiri atau
pimpinannya. Selanjutnya budaya ini sangat dipengaruhi oleh kriteria yang
digunakan dalam mempekerjakan pegawai. Tindakan pimpinan akan sangat
berpengaruh terhadap perilaku yang dapat diterima, baik dan yang tidak.
Bagaimana bentuk sosialisasi akan tergantung kesuksesan yang dicapai dalam
menerapkan nilai-nilai dalam proses seleksi. Namun secara perlahan nilai-nilai
tersebut dengan sendirinya akan terseleksi untuk melakukan penyesuaian terhadap
perubahan yang pada akhirnya akan muncul budaya kerja yang diinginkan. Meskipun
perubahan budaya kerja memakan waktu lama dan mahal (Brown;1995, Furnham dan Gunter,
1993; Scheider, Gunarson dan Nilles-Jolly, 1994 dalam Ellyana (2008).
Sementara Collins dan Porras dalam Sinamo (2002:3-4)
mengatakan bahwa Satuan kerja atau organisasi akan mampu mencapai sukses
tertinggi jika ia memiliki;
1) Sasaran-sasaran
dan target-target yang agung;
2) Keteguhan
tetapi sekaligus fleksibel
3) Budaya
kerja yang dihayati secara fanatic
4) Daya
inovasi yang kreatif;
5) Sistem
pembangunan sumber daya manusia (SDM) dari dalam
6) Orientasi
mutu pada kesempurnaan, dan
7) Kemampuan
untuk terus menerus belajar dan berubah secara damai.”
2.1.4
Kinerja
Kinerja adalah sesuatu yang dicapai atau prestasi
yang diperlihatkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001). Menurut Abraham (1993) mengatakan kinerja merupakan proses yang
dilakukan dan hasil yang dicapai oleh suatu organisasi dalam memberikan jasa atau
produk kepada pelanggan dan kinerja sebagai rekaman hasil kerja yang diperoleh
karyawan tertentu melalui kegiatan dalam kurun waktu tertentu.
Kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas
operasional organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran,
standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Mangkunegara (2001), kinerja adalah:
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.
Kinerja adalah penampilan hasil karya personel baik
kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Kinerja dapat merupakan
penampilan individu maupun kerja kelompok personel. Penampilan hasil karya
tidak terbatas kepada personel yang memangku jabatan fungsional maupun
struktural, tetapi juga kepada keseluruhan jajaran personel di dalam organisasi
(Ilyas, 2001).
Deskripsi dari kinerja menyangkut tiga komponen
penting, yaitu: tujuan, ukuran dan penilaian. Penentuan tujuan dari setiap unit
organisasi merupakan strategi untuk meningkatkan kinerja. Tujuan ini akan
memberi arah dan memengaruhi bagaimana seharusnya perilaku kerja yang
diharapkan organisasi terhadap setiap personel. Walaupun demikian, penentuan
tujuan saja tidaklah cukup, sebab itu dibutuhkan ukuran, apakah seseorang telah
mencapai kinerja yang diharapkan. Untuk kuantitatif dan kualitatif standar
kinerja untuk setiap tugas dan jabatan memegang peranan penting.
Selanjutnya Gibson (1996) menyatakan setiap karyawan
mempunyai hasil kerja yang berbeda, sedangkan Casio (2003) mengemukakan,
kinerja merupakan suatu jaminan bahwa seseorang pekerja atau kelompok mengetahui
apa yang diharapkannya dan memfokuskan kepada kinerja yang efektif. McCloy et
al. (1994), menyatakan bahwa kinerja adalah kelakuan atau kegiatan yang
berhubungan dengan organisasi, di mana organisasi tersebut merupakan keputusan
dari pimpinan. Dikatakan bahwa kinerja bukan outcome, konsekuensi atau
hasil dari perilaku atau perbuatan, tetapi kinerja adalah perbuatan atau aksi
itu sendiri, di samping itu kinerja adalah multidimensi sehingga untuk beberapa
pekerjaan yang spesifik mempunyai beberapa bentuk komponen kinerja yang dibuat
dalam batas hubungan variasi dengan variabel-variabel lain. Dalam
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yaitu
kecerdasan, stabilitas emosional, motivasi kerja, situasi keluarga, pengalaman
kerja, kelompok kerja serta pengaruh eksternal.
2.1.4.1
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Kinerja
Menurut Darma (2005) bahwa faktor-faktor tingkat
kinerja staf meliputi: mutu pekerjaan, jumlah pekerjaan, efektifitas biaya dan
inisiatif. Sementara karakteristik individu yang mempengaruhi kinerja meliputi:
umur, jenis kelamin, pendidikan, lama kerja, penempatan kerja dan lingkungan
kerja (rekan kerja, atasan, organisasi, penghargaan dan imbalan).
Gibson (1996) menyatakan terdapat tiga kelompok
variabel yang mempengaruhi kinerja dan perilaku yaitu: (1) variabel individu,
yang meliputi kemampuan dan ketrampilan, fisik maupun mental, latar belakang,
pengalaman dan demografi, umur dan jenis kelamin, asal usul dan sebagainya.
Kemampuan dan ketrampilan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kinerja
individu, sedangkan demografi mempunyai hubungan tidak langsung pada perilaku
dan kinerja, (2) variabel organisasi, yakni sumber daya, kepemimpinan, imbalan,
struktur dan desain pekerjaan, (3) variabel psikologis, yakni persepsi, sikap,
kepribadian, belajar, kepuasan kerja dan motivasi.
Persepsi,
sikap, kepribadian dan belajar merupakan hal yang komplek dan sulit diukur
serta kesempatan tentang pengertiannya sukar dicapai, karena seseorang individu
masuk dan bergabung ke dalam suatu organisasi kerja pada usia, etnis, latar
belakang, budaya dan ketrampilan yang berbeda satu sama lainnya. Uraian dari
variabel kinerja dapat dilihat sebagai berikut:
1. Tanggungjawab:
adalah kesanggupan seorang bidan dalam menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan
kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya serta berani memikul
risiko atas keputusan yang diambilnya atau tindakan yang dilakukannya.
2. Inisiatif:
adalah prakarsa atau kemampuan seorang bidan untuk mengambil keputusan,
langkah-langkah atau melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam
melaksanakan tugas pokok tanpa menunggu perintah dari atasan
3. Jumlah
pekerjaan: variabel ini berkembang berdasarkan kenyataan bahwapekerjaan itu
berbeda-beda satu sama lain dimana beberapa diantaranya lebihmenarik dan
menantang dibanding lainnya.
Menurut Muchlas (2006) terdapat 3 macam teori yang
mendukung teorikarakteristik pekerjaan ini antara lain:
1. Persyaratan
tugas: model karakteristik pekerjaan dan ciri persyaratan tugasdalam organisasi
itu.
2. Jumlah
produk yang dihasilkan dalam waktu tertentu dibandingkan dengan hasil yang
seharusnya dicapai sesuai standar atau dibandingkan dengan hasil pekerjaan
orang lain.
3. Penilaian
jumlah pekerjaan dilakukan menggunakan indikator: umpan balik dari rekan,
atasan, bawahan, orientasi waktu dan menghargai produk dengan insentip yang
sewajarnya, (Jain, 2006).
4. Pemenuhan
standar kerja: Brocklesby, J. And Cummings yang dikutip dalam Eriyatno (2006)
menyebutkan pemenuhan standar kerja merupakan proses menghasilkan suatu
kegiatan yang berjalan sempurna, seluruh pekerjaan dilaksanakan secara rapi,
sempurna, dapat diterapkan dan akurat.
Indikator yang dapat dipakai untuk menilai pemenuhan
standar kerja dapat dinilai dari mutu pekerjaan dengan cara: selalu
menganalisis data, persiapan diri dalam bekerja, motivasi pengembangan diri,
patuh pada standar kerja yang ditetapkan, rapi, tertib, tidak menghindari umpan
balik, puas dengan perencanaan yang dapat dikerjakan dan berusaha menjadi yang
terbaik. Kinerja merupakan gambaran tingkat suatu pelaksanaan kegiatan atau
program dalam usaha mencapai tujuan, misi, dan visi organisasi. Istilah kinerja
sering dipakai untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan individu atau
kelompok individu.
Pengukuran kinerja merupakan suatu aktivitas
penilaian pencapaian target-target tertentu yang mempuyai tujuan strategis
organisasi. Hasil pengukuran terhadap capaian kinerja sebagai dasar bagi
pengelola organisasi untuk perbaikan kinerja periode berikutnya.
2.1.5
Perkembangan Fotografi
Sejarah fotografi dimulai sejak 1857 ketika 2 orang tukang potret
Woodbury dan page membuka studio foto pertama mereka disekitar Harmonie
Batavia. Ini terjadi hanya 18 ahun sejak penemuan fotografi pada tahun 1839.
sejak adanya sudio foto di Batavia, banyak para tukang foto baik yang amatir
dan yang profesional membuat foto hiruk pikuk kota dengan keanekaragaman etnis.
Memandang sebuah objek dengan kamera tentulah tidak seluasa ketika
melihatnya dengna mata telanjang, melalui viewfinder kita hanya mampu mengambil
gambar dari sebagian yang mampu dilihat oleh mata. Oleh karena itu dibutuhkan
keterampilan lebih untuk membidik sasaran yang akhirnya akan menentukan hasil
foto yang baik. Berikut adalah beberapa cara bisa diaplikasikan pada
proses pengambilan gambar :
- Memenuhi ruang
Dalam fotografi sering
muncul pertanyaan kalau tidak bisa menjadikan sesuatu menjadi bagus maka
jadikanlah besar. Dengan memenuhi ruang dengan subyek anda tak mungkin salah
lagi mengenai pusat perhatian
- Menciptakan kedalaman
Untuk membuat gambar 2D
menjadi hidup diperlukan kedalaman utuk memanipulasi elemen elemen yang
terdapat di latar depan, tengah dan belakang.
- Sudut memotret
Memotret sebuah objek
harus dapat menunjukan karakteristik dari objek tersebut. Sehingga dalam
mengambil gambar peran sudut dalam memotret menjadi sangat fatal jika diabaikan
agar gambar yang di ambil dapat terlihat mendimensi (tidak flat). Angle yang
biasa digunakan dapat ditentukan dari berbagai macam sudut untuk mempermudah
biasanya untuk objek manusia sudutnya tidak terlalu extreme bahkan cenderung
tidak memerlukan perubahan dari sudut pandang.
Fotografi adalah seni dan proses penghasilan gambar melalui cahaya pada
film atau penukaan yang dipekakan. Dalam
seni rupa, Photography adalah proses pembuatan lukisan dengan menggunakan media
cahaya. Sebagai istilah umum, Photography berarti proses atau metode untuk menghasilkan
gambar atau foto dan suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai
objek tersebut pada media yang peka cahaya.
Photography sendiri berasal dari dua patah kata “photo” dan
“graphy”.
·
Photo berasal dan bahasa Latin yang memiliki
arti cahaya, sinar atau Iebih luas biasa diartikan pencahayaan, penyinaran.
·
Graphy berasal dan bahasa latin “Graphien” yang
kurang lebih memiliki arti tulisan gambar atau design bentuk.
Jadi Photography
dapat di artikan secara luas sebagai gambar mati atau lukisan yang
diperoleh melalui media yang dikenal dengan nama kamera
Dunia fotografi merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi perkembangan jaman. Fotografi telah dikenal luas dalam masyarakat,
karena fotografi dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam
hal-hal yang menyangkut informasi visual seperti surat kabar, majalah dan
sebagainya. Perkembangan fotografi di Indonesia dapat dilihat dari
berkembangnya jumlah fotografer, klub fotografi dan makin majunya teknologi
fotografi baik dari peralatan maupun perlengkapannya serta makin meningkatnya
kualitas karyakarya fotografer Indonesia.
Demikian pula dengan perkembangan fotografi di
Semarang, dari segi historis, Semarang menjadi tempat diadakannya kongres
pertama GAPERFI (Gabungan Perhimpunan Seni Foto Indonesia) pada tahun 1955,
yang sekarang berubah nama menjadi FPSI (Federasi Perhimpunan Senifoto
Indonesia).
Dunia Fotografi
Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat, karena sesungguhnya
fotografi sudah sejak lama dikenal oleh orang Indonesia. Tercatat dalam sejarah
dunia fotografi Indonesia, hanya dalam waktu dua tahun sejak fotografi
ditemukan oleh manusia. Temuan baru itu sudah masuk ke bumi nusantara,
selanjutnya fotografi mulai dikenal luas di seluruh Indonesia. Perkembangan
fotografi yang cukup pesat terjadi karerna para fotografer mendirikan
perkumpulan atau organisasi fotografi.
Tercatat banyak sekali
perkumpulan fotografi yang lahir baik itu profesional ataupun amatir, hal ini
sangat mempengaruhi dunia fotografi di Indonesia. Singkat histori, Studio 5 berdiri pada tanggal 5 mei 2012
lounching dibukanya studio pada tanggal 5 juni 2012 oleh sebab itu studio
dinamakan studio 5 karena pemiliknya pun lahir bertepatan pada tanggal 5.
Selain simpel nama studiao 5 pun sangat mudah di ingat, oleh sebab itu
pemilik menggunakan angka 5 sebagai nama studio.
Nama
pemilik studio 5 adalah Gafuri Ahmad, berprofesi sebangai wirausahawan
sekaligus seorang photografer.
Adapun
alamat studio 5 bertempat di jalan Tantina No 18 Gatot Subroto – Samarinda.
Jumblah
karyawan :
-
Anto
-
Aldo
-
Awan
-
ayen
-
Dani
-
Eka
-
Rizki
-
Ricki abian
-
Obok (M. taufik)
Perkembangan fotografi yang cukup pesat tidak lepas
dari semakin meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat kita. Semakin meningkatnya tingkat pendidikan
masyarakat, mengakibatkan dunia fotografi di Samarinda semakin berkembang dengan baik. Terbukti dari
seringnya diadakan pameran, seminar, serta workshop di Kota Samarinda ,
walaupun masih kalah intensitasnya jika dibandingkan dengan seni lukis.
2.2 Definisi Konsepsional
Definisi
konsepsional adalah batasan konsep yang digunakan penulis, sehingga memberikan
pengertian yang tepat sebagai unsur penting dalam sebuah penelitian. Dari
penjelasan di atas, maka peneliti membuat definisi konsepsional dari
penerapan Komunikasi Persuasif Terhadap Budaya Kerja
Karyawan
Studio 5 photography Samarinda. Yang dilakukan ada beberapa tahapan, Pertama, Teknik Integrasi adalah kemampuan komunikator untuk
menyatukan diri secara komunikatif dengan komunikan. Yang kedua adalah oleh
atasan memberikan pemahaman melalui komunikasi persuasif kepada bawahannya.
Selain itu juga untuk mempererat hubungan pimpinan dan karyawan yang secara
tidak langsung akan mampu meningkatkan kinerja karyawan.
METODE
PENELITIAN
3.1 Jenis
Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah jenis penelitian deskriptif
kualitatif yaitu penelitian yang berusaha menggambarkan atau ditujukan untuk mendeskrpsikan
gejala-gejala yang tejadi pada masa itu dengan memaparkan hasil temuannya
secara sistematik dengan menekankan pada data faktual (Sandjaja & Haryanto,
2006:110).
Menurut Aaker et al. (2001:24) rancangan
penelitian adalah perencanaan terinci yang digunakan sebagai pedoman studi
penelitian yang mengarah pada tujuan dari penelitian tersebut. Selanjutnya
menurut Kerlinger (1993:532) rancangan penelitian adalah suatu rencana, kerangka
untuk mengkonseptualisasikan struktur relasi variabel-variabel suatu kajian
penelitian. Rancangan atau desain penelitian umumnya terbagi atas 3 (tiga)
bentuk, yaitu penelitian eksploratif (explorative research), penelitian
deskriptif (descriptive research) dan penelitian penjelasan (explanatory
research) (Umar, 1999:36). Penelitian eksploratif adalah jenis penelitian
yang berusaha mencari ide-ide atau hubungan-hubungan yang baru. Sedangkan
penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan menguraikan
sifat-sifat atau karakteristik dari suatu fenomena tertentu. Terakhir, penelitian eksplanatori adalah
penelitian yang bertujuan menganalisis hubungan-hubungan antara satu variabel
dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel
lainnya.
Dari definisi diatas maka penulis memasukkan
peneitian ini kedalam kelompok penelitian deskriptif, yang menghasilkan data
deskriftif dengan mengumpulkan data berupa kata-kata baik tertulis maupun lisan
dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Begitu pula penelitian akan
memaparkan dan menggambarkan penerapan komunikasi persuasive untuk meningkatkan
budaya kerja dan kinerja di Studio 5 photography Samarinda
3.2 Fokus Penelitian
Dalam penelitian yang menjadi fokus penelitian
penulis yaitu Penerapan dan penggunaan komunikasi Persuasif pimpinan terhadap
peningkatan Budaya Kerja dan Kinerja Karyawan Studio 5 photography Samarinda
3.3 Sumber Data
Sumber data didalam penelitian ini ada dua, yaitu key informan dan
informan. Key informan yaitu Pimpinan
Studio 5 photography Gafuri Ahmad dan informan karyawan Studio 5 photography . Sampling
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sensus Sampling. Nonprobility
sampling menutut Kriyantono (2006:154) adalah sampel tidak melalui random,
disini semua populasi belum tentu memiliki peluang yang sama untuk dipilih
menjadi sampel, disebabkan pertimbangan-pertimbangan tertentu oleh peneliti.
Sedangkan, Nonprobability sampling menurut Sugiono (2003:95) adalah teknik
pengambilan sampel yang tidak member peluang atau kesempatan sama bagi setiap
unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.
Jumlah anggota populasi adalah 10 karyawan
sehingga dalam penelitian ini seluruh populasi akan diobeservasi, karena populasi penelitian adalah finit dan
cenderung heterogen.
Oleh karena itu penelitian ini menggunakan metode sensus atau complete enumeration, atau
penelitian ini tidak menggunakan sampel sehingga teknik pengambilan sampel tidak diperlukan
3.4
Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
a.
Penelitan
Kepustakaan
Berupa data sekunder yang diperoleh dari
buku-buku, dll
b.
Penelitian
lapangan
1.
Observasi
Observasi adalah pengamatan yang merupakan
kegiatan kita yang utama dan teknik penelitian ilmiah yang penting. Dalam
penelitian ini, observasi dilakukan untuk dan mengumpulkan data-data valid
tentang Penerapan Komunikasi Persuasif dalam peningkatan budaya kerja dan
kinerja Studio 5 photography.
2.
Wawancara
Wawancara adalah percapakan dengan maksud
tertentu. Wawancara dimaksudkan sebagai
usaha memperoleh informasi dari orang yang diwawancarai (informan). Wawancara
dilakukan secara terbuka terstruktur dengan pertanyaan yang fokus pada
permasalahan sehingga informasi yang dikumpulkan cukup lengkap dan mendalam.
3.
Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan data yang
dilakukan untuk mendapatkan data sekunder berupa dokumen atau arsip, dan karya
ilmiah yang releven dengan penelitian ini.
3.5 Teknik
Analisis Data
Teknik analisis
data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Sehingga penelitian ini
berusaha memberikan gambaran dari data-data yang dikumpulkan untuk ditarik
suatu kesimpulan mengenai Komunikasi Persuasif dalam meningkatkn budaya kerja
dan kinerja karyawan di Studio foto 5. Dalam teknik analisis datanya, peneliti
mengacu pada Model Interaktif oleh Miles dan Huberman (1992:20) sebagai berikut
:
Gambar 2 : Analisis data model interaktif

Sumber : Miles dan Huberman (Terjemahan
Tjejep Rohendi Rohidi, 1992:20)
Adapun penjelasan dari model interaktif yang
dikembangkan oleh Miles dan Huberman dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengumpulan data
Pengumpulan
data adalah data pertama atau data mentah dikumpulkan dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini, pengumpulan data
dilakukan dengan riset lapangan dan riset kepustakaan tentang penerapan
Komunikasi Persuasif dalam meningkatkn budaya kerja dan kinerja karyawan di
Studio foto 5.
2. Reduksi Data
Reduksi
data atau penyederhanaan data adalah proses pemilihan, memfokuskan,
menyederhanakan dan membuat abstraksi. Mengubah data mentah yang dikumpulkan dari penelitian ke dalam catatan
yang telah disortir atau diperiksa. Tahap ini merupakan analisis yang
dipertajam, membuang, memodifikasikan data sehingga kesimpulan dapat ditarik
dan dibuktikan peneliti. Setiap data yang diperoleh mengenai Komunikasi Persuasif dalam meningkatkn
budaya kerja dan kinerja karyawan di Studio foto 5 terlebih dahulu akan direduksi dan dilakukan penyaringan
terhadap data-data yang dianggap relevan dengan fokus penelitian sebelum
akhirnya disajikan dan ditarik suatu kesimpulan. Proses ini akan dilakukan terus-menerus hingga
penelitian ini lengkap tersusun.
3. Penyajian data
Langkah
berikutnya setelah proses reduksi data berlangsung adalah penyajian data yang
dimaknai sebagai penyusunan sekumpulan informasi yang memberi kemungkinan
adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan mencermati penyajian data ini, maka akan
dapat dipahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Artinya
meneruskan analisisnya atau mencoba untuk mengambil sebuah tindakan dengan
memperdalam temuan tersebut. Hal ini dilakukan untuk memudahkan bagi peneliti
melihat gambaran secara penelusuran atau bagian-bagian tertentu dari data
penelitian, sehingga dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan mengenai Komunikasi
Persuasif dalam meningkatkn budaya kerja dan kinerja karyawan di Studio foto 5 photography.
4. Penarikan Kesimpulan
Menarik
kesimpulan adalah data yang telah diproses dan telah disusun kemudian diambil
kesimpulan atau makna dari data yang telah disederhanakan untuk disajikan dan
sekaligus untuk memprediksi melalui pengamatan dari data yang ada. Dalam proses
penarikan kesimpulan ini, peneliti berpegangan pada data yang telah direduksi
atau yang telah disajikan mengenai Komunikasi
Persuasif dalam meningkatkn budaya kerja dan kinerja karyawan di Studio foto 5 photography.
3.1
Jadwal Penelitian
Penelitian
ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2012. Waktu penelitian juga disesuaikan dengan
situasi dilapangan dan dengan persetujuan dari obyek yang bersangkutan. Adapun lokasi dari penelitian ini adalah
bertempat di studio 5 photography jalan Tantina No 18 Gatot Subroto – Samarinda.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1.
Gambaran Umum Studio 5 dan
Identitas Responden
Studio 5 berdiri pada tanggal 5 mei 2011 launching dibukanya studio pada
tanggal 5 juni 2011 oleh sebab itu studio dinamakan studio 5 karena pemiliknya
pun lahir bertepatan pada tanggal 5. Selain simpel nama studiao 5 pun sangat
mudah di ingat, dan karena itu pemilik menggunakan angka 5 sebagai nama studio. Adapun alamat studio 5 bertempat di jalan
Tantina No 18 Gatot Subroto – Samarinda.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik sekaligus pendiri
dari studio 5 mengatakan bahwa
pembangunan Studio 5 pada mulanya berorientasi sebagai tempat untuk menyalurkan
hobby foto pemilik, namun seiring dengan perkembangannya hobby terserbut
dikembangkan menjadi usaha dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.
Pendirian Studio tersebut memiliki fungsi yang sangat
strategis yang mana dapat dibedakan menjadi 2 fungsi :
1. Sebagai tempat penyaluran Hobby
2. Sebagai tempat berkreatifitas
3. Sebagai sumber penghasilan baru
4. Untuk menjalin koneksivitas diantara
fotografer
Sampai saat ini usaha studio foto 5 memiliki karyawan
berjumlah 9 orang yang dibagi kedalam 3 ketegori pekerjaan utama untuk lebih
jelasnya dapat dilihat dari table berikut.
Tabel 1. Jenis
Pekerjaan dan Lama Kerja Karyawan
No
|
Nama
|
Jenis Pekerjaan
|
Lama Kerja
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
|
Rudi
Anto
Aldo
Awan
Ayen
Dani
Eka
Rizki
Ricki Abian
M. Taufik
(Obok)
|
Pimpirnan/Pemilik/Fotografer
Fotografer
Fotografer
Fotografer
Fotografer
Driver/Crue
Administrasi
Administrasi
Crue
Crue
|
13
Bulan
13
Bulan
13
Bulan
13
Bulan
13
Bulan
13
Bulan
13
Bulan
13
Bulan
13
Bulan
13
Bulan
|
Sumber
: Data primer yang diolah, 2012
Dari tabel
tersebut diatas bahwa untuk lama atau waktu kerja karyawan Studio 5 adalah
selama 13 bulan (1 tahun lebih 1 bulan), jadi kesemua karyawan tersebut adalah karyawan yang sama
saat mulai berdiri atau launchingnya studio 5 tersebut.
Penetapan jenis pekerjaan para karyawan tersebut merupakan
hak mutlak dari pimpinan sekaligus pemilik studio, menurut pimpinan penetapan
jenis pekerjaan dan karyawannya lebih mengacu kepada kemampuan fotografinya dan
keahlian lain yang mendukungnya.
Untuk bagian Adminstrasi dimana fungsi ini juga digunakan
sebagai media marketing untuk menjual layanan jasa yang diberikan oleh studio
5, kemampaun verbal dari Adminsitrasi sangat erat diperlukan untuk mampu
menjelaskan, menarik pelanggan untuk menggunakan jasa Studio 5.
Dalam Dunia kerja tingkat pendidikan memegang peranan yang
sangat penting dimana hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja dan
produktifitas karyawan perusahaan, untuk Studio 5 karyawan yang berkerja
rata-rata berpendidikan SMA hingga Perguruan Tinggi, untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Tingkat
Pendidikan Karyawan
No
|
Nama
|
Jenis Pekerjaan
|
Tingkat Pendidikan
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
|
Rudi
Anto
Aldo
Awan
Ayen
Dani
Eka
Rizki
Ricki Abian
Obok
|
Fotografer
Fotografer
Fotografer
Fotografer
Fotografer
Driver/Crue
Administrasi
Administrasi
Crue
Crue
|
Sarjana
(S1)
Sarjana
(S1)
Masih
Kuliah
SMA
Masih
Kuliah
SMA
Masih
Kuliah
SMA
Masih
Kuliah
Sarjana
(S1)
|
Sumber
: Data primer yang diolah, 2012
Dilihat dari data tersebut memperlihatkan bahwa sebanyak 40
% responden sedang menyelesaikan
pendidikan di Perguruan Tinggi, sedangkan hanya 40 % responden hanya sampai pada pendidikan
tingkat SMA, sedangkan baru 20% responden yang sudah menyelesaikan dan
memperoleh gelar Sarjana (S1).
Tingginya tingkat pendidikan yang diterima atau diperoleh
oleh para responden dalam hal ini karyawan Studio 5 dapat dijadikan sebagai
acuan kemampuan mereka dalam menyerap segala perintah dari pimpinan dan
melaksanakannya sesuai dengan keinginan dari pimpinan mereka. Dalam kehidupan
organisasi, komunikasi menjadi sesuatu yang sangat penting karena komunikasi
dapat meningkatkan saling pengertian antara karyawan dan atasan, dan meningkatkan
koordinasi dari berbagai macam kegiatan/tugas yang berbeda. Hasibuan, 2002 mengemukakan
konflik antar perseorangan yang mungkin paling sering dikemukakan adalah
buruknya komunikasi, sebab kita menggunakan hampir 70% dari waktu aktif kita untuk
berkomunikasi, menulis, membaca, berbicara, mendengar sehingga beralasan untuk
menyi mpulkan bahwa satu dari kekuatan yang paling menghalangi suksesnya
pekerjaan kelompok.
Diskripsi Jabatan para karyawan Studio 5 dapat dijabarkan
dalam bagan sebagai berikut :
![]() |
Gambar 2. Strutur Orngasasi Studio 5 Samarinda
Dengan Job Diskripsi sebagai berikut
1. Owner / Pemilik adalah orang yang
Memegang otoritas penuh terhadap perintah dan data perusahaan serta dapat
mengkoordinir para karyawan di lingkungan studio 5 photography.
2. Tim Fotografi adalah Memiliki
kewenangan untuk melakukan semua pemotretan yang diberikan oleh Studio tanpa
meninggalkan etika fotografi
3. Administrasi adalah Memiliki
tanggungjawab dan kewenangan yang mengelola keuangan baik itu pemasukan ataupun
pembiayaan studio serta bisa menerima order buat studio 5 photography.
4. Driver
/ Crue Memiliki tanggung jawab untuk membatu
dan melancarkan semua kegiatan pemotretan yang dilakukan oleh tim fotografi,
serta membatu hal – hal yang diperlukan oleh ruang studio.
Dari gambar 2 diatas tampak sistem komunikasi yang terjadi
di Studio 5 adalah sistem komando dalam artian bahwa sistem yang terbangun
dalam struktur tersebut adalah komunikasi dua arah, dimana puncak penyampaian
pesan dan pengkoordiniran semua kegiatan Studio 5 menjadi tanggung jawab dari
Pimpinan selaku pemilik Studio dengan menerapkan garis koordinasi antara unit
kerja yang ada sehingga komunikasi persuasif dapat terbanngun.
Untuk tingkat pendapatannya karyawan
memperoleh pendapatan sesuai dengan jabatan dan pekerjaannya, pendapatan yang
diperoleh berkisar antara Rp. 1.250.000,- sampai dengan Rp. 2.500.000,- dengan
perincian sebagai diperlihatkan pada tabel berikut.
Tabel 3. Pendapatan
Karyawan
No
|
Nama
|
Umur
|
Pendapatan
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
|
Rudi
Anto
Aldo
Awan
Ayen
Dani
Eka
Rizki
Ricki Abian
M. Taufik
|
33
32
23
20
22
21
25
27
24
28
|
3.000.000,-
2.000.000,-
2.000.000,-
2.000.000,-
2.000.000,-
1.500.000,-
1.500.000,-
1.500.000,-
1.250.000,-
1.250.000,-
|
Sumber
: Data primer yang diolah, 2012
Menurut karyawan pendapatan yang mereka peroleh dalam satu
bulan tidaklah mesti seperti nilai tersebut, biasanya pendapatan yang diperoleh
lebih besar dari gaji yang mereka terima, hal ini sesuai dengan job pekerjaan
yang mereka peroleh (order foto). Selain mendapat fasilitas gaji para karyawan
juga memperoleh fee atau imbalan dari
job yang mereka terima, bahkan menurut pimpinan mereka bisa mencari job sendiri
diluar jam kerja mereka yang sudah ada, hal ini sesuai dengan pendapat Bambang, S yang mengatakan bahwa pendapatan yang diberikan kepada karyawan
tidak hanya gaji pokok, namun berdasarkan kebijakan dan strategi pengupahan
masing-masing Perusahaan dapat pula ditetapkan pendapatan lain seperti
tunjangan, bonus dan sebagainya.
Namun permasalahan yang timbul dalam kegiatan sebuah
organisasi adalah bahwa penyampaian yang dilakukan oleh pimpinan tidak serta
merta dapat dipahami karyawan secara langsung dan ini menjadi kendala yang
paling utama dalam upaya peningkatan produktifitas dan efektivitas kerja
karyawan, hal ini sesuai dengan pandangan Handoko dalam Kurniawan (2012) yang
mengatakan bahwa keberhasilan dan kegagalah suatu organiasi pada dasaranya
dipengaruhi berbagai macam hal, salah satu faktornya adalah Sumber Daya
Manusia, karena segala aktifitas perusahaannya kembali kepada manusia yang
merukan aset yang senantiasa perlu dikembangkan dan dikelola dengan baik.
4.2.
Penerapan
Komunikasi Persuasif
Kegiatan komunikasi dalam hal ini adalah proses perpindahan
informasi, bisa dikatakan telah ada sejak terbentuknya masyarakat dan telah
menjadi bagian dari kehidupan keseharian manusia. menurut Suratman (1999)
mengatakan bahwa 70% waktu bangun manusia digunakan untuk berkomunikasi. Disatu sisi pada hakikatnya komunikasi adalah
fitrah manusia, selam manusia masih mempunyai naluri ingin tahu dan ingin
menyampaikan sesuatu kepada sesamanya, maka selama itu akan ada kegiatan
komunikasi.
Komunikasi adalah suatu aspek kehidupan manusia yang paling
mendasar, penting, dan kompleks. Kehidupan sehari-hari kita sangat dipengaruhi
oleh komunikasi kita sendiri dengan orang lain, bahkan oleh pesan yang berasal
dari orang yang kita tidak tahu (we can not not communication). Karena ke-kompleks-an komunikasi, maka Little
John mengatakan, komunikasi adalah sesuatu yang sulit untuk didefinisikan.
Sementara itu, menurut ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, komunikasi
adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada
pihak lain, agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya.
Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal adanya komunikasi
persuasif, yaitu komunikasi yang bersifat mempengaruhi audience atau komunikannya, sehingga bertindak sesuai dengan apa
yang diharapkan oleh komunikator.
Demikian pula dalam kegiatan organisasi, komunikasi persuasif layak
diperlukan untuk mengembangan kemampuan verbal dan pemahaman antara karyawan
dan pimpinannya.
Studio 5 photography sebagai
sebuah organisasi perusahaan dalam kesehariannya berusaha untuk lebih dapat
mampu meningkatan kinerja dan produktifitas karyawan dalam lingkungannya,
menurut responden hampir 90 % mengatakan bahwa kemampuan verbal atau
berkomunikasi antara pimpinan dan karyawan atau antar karyawan dengan karyawan
sudah terjalin dengan baik. Menurut
mereka dalam konteks ini dapat dikatakan suasana kerja yang tercipta
dilingkungan Studio 5 photography
sudah berjalan dengan sangat harmonis, sehingga produktifitas dan efektivitas
kerja dapat ditingkatkan.
Komunikasi persuasif akan terasa menjadi efektif jika terjadi
komunikasi dua arah baik itu antara karyawan dan pimpinan atau antara karyawan
dengan karyawan, komunikasi umpan balik atau dua arah memungkinkan proses
komunikasi berjalan dengan lebih efektif dan dapat menciptakan lingkungan yang
komunikatif dalam organisasi, dalam hal ini pimpinan haruslah aktif,
berdasarkan hasil wawancara dengan responden tentang bagaimana kedekatan antara pimpinan dengan karyawan
memperlihatkan bahwa kesemua responden sebanyak 9 orang atau sebesar 90%
menyatakan sangat dekat. Kedekatan tersebut
terlihat dari seringnya pimpinan Studio 5 berkunjung dan melakukan dialog
tentang permasalahan kerja, baik itu mengenai kondisi studio ataupun pekerjaan
pemotretan yang mereka lakukan.
Semakin kompleksnya kehidupan manusia, membuat peranan
komunikasi semakin tidak terelakan, untuk kepentingan berinteraksi, memecahkan
masalah, ataun untuk menjalin hubungan yang baik dengan sesama baik itu
masyarakat maupun rekan ditempat kerja.
Demikian pula bila dilihat dari sudut pandang organisasi atau perusahaan
sebagai suatu kesatuan sosial yang terdiri dari orang atau kelompok orang yang
berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, komunikasi memiliki
peran penting untuk menjalin hubungan atau relation kerja antara pimpinan dan
karyawan.
Dengan kedekatan yang dibangun oleh manajemen Studio 5
memperlihatkan bahwa komunikasi persuasif sudah terbangun dengan baik, pola
kedekatan dengan lebih respect dan memberikan perhatian pada saat karyawan
sedang bekerja dirasa sangat memberikan dorongan, motifasi dan semangat dalam
menjalankan semua aktifitas para karyawan.
4.3.
Gambaran
Diskripsi Hubungan Komunikasi Persuasif dengan Budaya Kerja dan Kinerja Karyawan
Dalam proses komunikasi, ada lima elemen dasar yang
dikemukakan oleh Harold Lasswell dengan istilah “Who Says What in Which
Channel to Whom with What Effect”. Kelima elemen dasar tersebut adalah Who
(sumber atau komunikator), Says What (pesan), in Which
Channel (Saluran), to Whom (Penerima), with What Effect (Efek
atau dampak). Lima elemen dasar dari komunikasi yang dikemukakan oleh Harold
Laswell di atas akan bisa membantu para komunikator dalam menjalankan tugas
mulianya.
Berhasil tidaknya suatu komunikasi tergantung dari
kelima elemen dasar tersebut. Bagaimana komunikator bisa mempengaruhi
komunikannya, sehingga bisa bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
komunikator, bahkan bisa merubah sikap dan perilaku dari komunikan tersebut.
Namun, komunikator, pesan, saluran yang bagaimana yang akan bisa merubah sikap
dan perilaku komunikan, serta perubahan yang bagaimana yang diharapkan harus
menjadi perhatian sangat besar bagi kita semua.
Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal adanya
komunikasi persuasif, yaitu komunikasi yang bersifat mempengaruhi audience atau komunikannya, sehingga
bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Menurut K.
Andeerson, komunikasi ersuasive didefinisikan sebagai perilaku komunikasi yang
mempunyai tujuan mengubah keyakinan, sikap atau perilaku individu atau kelompok
lain melalui transmisi beberapa pesan. Sedangkan menurut R. Bostrom bahwa
komunikasi persuasif adalah perilaku komunikasi yang bertujuan mengubah,
memodifikasi atau membentuk respon (sikap atau perilaku) dari penerima.
Komunikasi persuasif ini dapat dipergunakan dalam kegiatan
usaha, khususnya usaha yang menekankan kepada kegiatan jasa. Yang dikehendaki
dalam komunikasi persuasif adalah perubahan perilaku, keyakinan, dan sikap yang
lebih mantap seolah-olah perubahan tersebut bukan atas kehendak komunikator
akan tetapi justru atas kehendak komunikan sendiri. Persuasi yaitu menggunakan
informasi tentang situasi psikologis dan sosiologis serta kebudayaan dari
komunikan, untuk mempengaruhinya, dan mencapai perwujudan dari apa yang
diinginkan oleh message Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar komunikasi
kita menjadi persuasif atau bisa mempengaruhi orang lain.
Budaya kerja adalah cara kerja sehari-hari yang
bermutu dan selalu mendasari nilai-niali penuh makna, sehingga menjadi
motivasi, memberi inspiras, untuk senantiasa bekerja lebih baik dan memuaskan,
dengan demikian setiap fungsi atau proses kerja mempunyai perbedaan dalam cara
bekerjanya yang mengakibatkan perbedaan nilai-nilai dalam kerangka kerja
organisasi. Hal tersebut seperti
niali-nilai apa saja yang patut dimiliki, dan bagaimana perilaku setiap orang
akan dapat mempengaruhi kerja mereka, kemudian falsafah yang dianutnya.
Ada beberapa hal yang menjadi pemikiran mendasar
dari pimpinan untuk membangun budaya kerja yang baik dilingkungan Studio 5,
misalnya dengan melakukan pendekatan dan komunikasi yang intens dengan
karyawan, membangun komunikasi bukanlah perkara yang gampang, persepsi, dan
kemampuan menyerap perintah verbal para karyawan menjadi permasalah yang sangat
mendasar, seperti halnya dalam lingkugnan studio 5 dimana berdasarkan
pertanyaan apakah pimpinan mendengarkan
keluhan para karyawan sebanyak 6 orang (60%) menyatakan bahwa pimpinan
tidak begitu mendengar keluhan yang disampaikan, dan 4 orang (40%) menyatakan
bahwa pimpinan mendengarkan keluhan yang sampaikan oleh karywan.
Komunikasi persuasif dapat dikatakan sebagai
petunjuk dan penafsiran pesan antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian
dari suatu organisasi tertentu. Definisi
tersebut lebih menekankan pada aspek fungsional (Objektif), sedangkan bila
dilihat dari interperstasi (Subjektif) dapat dipandang sebagai proses
penciptaan makna atas sebuah interaksi (Pace & Faules 2001).
Kondisi ini dimungkinkan terjadi sebagai akibat
kurang terjadinya komunikasi dua arah (timbal bailk) antara karyawan dan
pimpinan, sehingga apa yang menjadi keinginan mereka dapat langsung direspon
oleh pimpinan. Berbeda dengan item
apakah pimpinan memperhatikan saat anda
sedang bekerja sebanyak 70% mengatakan pada bahwa ada perhatian dari
pimpinan saat karyawan sedang melakukan pekerjaan dan hanya 30% yang menyatakan tidak ada perhatian dalam
melakukan pekerjaan.
Komunikasi persuasif dikatakan gagal, ketika
mengikuti sosialisasi pada seminar di suatu perguruan tinggi yang dimana audiencenya adalah mahasiswa dan
masyarakat umum yang mempunyai pendidikan dan pengalaman yang jauh lebih tinggi
dari komunikator. Seandainya pada saat itu para komunikator yang hadir kurang
menguasai program yang dibawa, tentunya masyarakat tidak akan puas, bahkan
mungkin tidak akan berpengaruh pada perubahan sikap yang diharapkan.
Ketidak-kredibelan komunikator juga sering disampaikan oleh masyarakat sendiri,
dengan cara membandingkan antara fasilitator yang satu dengan fasilitator
lainnya. Kemudian trustworthiness (dapat dipercaya) juga sangat
penting bagi komunikator supaya komunikasi yang dilakukannya menjadi persuasif.
Ketika seorang komunikator yang sudah tidak dipercaya oleh komunikan, apapun
yang disampaikannya tidak akan didengar oleh komunikannya.
Dalam hal apakah pimpinan
memberikan saran dalam hal memutuskan pekerjaan kesemua responden 100%
mengatakan bahwa setiap keputusan di lingkungan Studio 5 menjadi kewenangan dan
hak dari pimpinan. Bila pesan mengalir melalu jalur resmi yang ditentukan oleh
perusahaan atau fungsi pekerjaan maka pesan itu masuk kedalam jalur formal
seperti dijelaskan oleh Liliweri (1997) yang menaytakan bahwa suatu komunikasi
dalam organisasi dapat dikatakn formal apabila memenuhi persyarakatan sebagai
berikut :
1. Komunikasi
formal sebagai fasilitas mengkoordinir kegiatan
2. Hubungan
formal meliputi hubungan antara atasan dan bawahan
3. Komunikasi
formal memungkinkan anggota dapat mengurangi atau menekan waktu terbuang
4. Komunikasi
formal menekankan pada dukunganyang penuh dan kuat dari otoritas pimpinan
Pesan formal yang tercipta di Studio 5 photography
memperlihatkan arus dari atas kebawah dan pesan selalu bergerak selama dalam
jalur struktur tersebut terjadi komunikasi dua arah.
Untuk permasalahan bonus, dari pertanyaan apakah
pimpinan memberikan bonus atas prestasi dan hasil kerja karyawan diperoleh
bahwa 100 % responden mengatakan bahwa untuk urusan bonus pierusahaan atau
pimpinan selalu memberikan reward atau bonus terhadap hasil kerja yang telah
mereka berikan, selain itu member tips untuk kegiatan kerja yang melewati dari
waktu kerja yang disepakati. Perhatian
yang besar juga diberikan oleh pihak Studio 5 terhadap keberhasilan para
karyawannya dalam mendapatkan dan menyelesaikan pekerjaan.
Dari hasil penelitian
diatas dapat diperhatikan bahwa penerapan komunikasi persuasif di lingkungan
studio foto bukanlah mutlak dilakukan hanya oleh pimpinan Studio, namun semua
komponen yang terdapat dalam Studio 5 photography
harus bisa memberikan timbal balik bagi terciptanya suasana kerja yang
kondusif. Penggunaan komunikasi persuasif
di lingkungan Studio 5 memperlihatkan dua sistem komunikasi yaitu sistem
komunikasi formal dan informal, dimana penyampaian pesan komunikasi oleh
pimpinan dapat dilakukan dengan cara menempatkan posisi dan kedudukan jabatan
dalam organisasi sebagai patokannya, namun dilain waktu pimpinan studio juga
bisa menanggalkan atribut jabatannya.
Penggunaan komunikasi persuasif
secara tidak langsung juga akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku bawahan
sehingga akan mengganggu hubungan kerja dalam ruang lingku kerja seperti
pendapat Kotler (2000) yang menyatakan salah satu ciri komunikasi yang paling
nyata adalah konsep hubungan dimana semua jaringan yang terhubungan dalam
rangkaian kerja tersebut saling berhubungan secara nyata.
Dimana apabila dalam
Studio 5 pimpinan perusahaan selaku pemilik atau owner dari studio dan juga
adalah koordinator segala kegiatan dalam ruang lingkup pekerjaan Studio 5
terlalu sering melepaskan posisi jabatannya dalam menjalin hubungan dengan
karyawan maka dikhawatirkan akan terjadi penurunan nilai khusus terhadap
kepatuhan terhadap pimpinan, dimana karyawan dengan mudah berkata tidak terhadap pekerjaan yang dibebankan
kepada hal ini sesuai dengan pendapat Menurut
Pace & Faules (2001) bila anggota berkomunikasi tanpa memperhatikan
potennsinya maka itu dapat dikatakan sebagai komunikasi informal.
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan
yang diperoleh dalam penelitian ini adalah :
1. Dari
pertanyaan yang diajukan berupa apakah
pimpinan mendengarkan keluhan para karyawan sebanyak 6 orang (60%)
menyatakan bahwa pimpinan tidak begitu mendengar keluhan yang disampaikan, dan
4 orang (40%), kedekatan antara pimpinan
dengan karyawan memperlihatkan bahwa kesemua responden sebanyak 9 orang
atau sebesar 90% menyatakan sangat dekat, pimpinan
memperhatikan saat anda sedang bekerja sebanyak 70% mengatakan pada bahwa
ada perhatian dari pimpinan saat karyawan sedang melakukan pekerjaan dan hanya
30% yang menyatakan tidak ada perhatian
dalam melakukan pekerjaan, pimpinan
memberikan saran dalam hal memutuskan pekerjaan kesemua responden 100%
mengatakan bahwa setiap keputusan di lingkungan Studio 5.
2. Berdasarkan
hasil wawancara dan interview yang dilakukan terhadap kesemua responden
memperlihatkan bahwa 90 % mengatakan bahwa kemampuan verbal atau berkomunikasi
antara pimpinan dan karyawan atau antar karyawan dengan karyawan sudah terjalin
dengan baik.
3. Dengan
adanya komunikasi timbale balik atau dua arah maka secara perlahan akan terjadi
peningkatan yang positif terhadap Budaya Kerja dan Kinerja karyawan ini dapat
dilihat dari antusias mereka saat menerima reward dari Perusahaan / Studio Foto
5 photography
Samarinda.
5.2.
Saran
Berdasarkan
hasil penelitian dan kesimpulan diatas, maka peneliti perlu memberikan saran-saran, antara lain:
1. Dapat
dimanfaatkan sebagai rujukan dalam melakukan penelitian berikutnya terutama
mengenai komunikasi persuasif terhadap Budaya Kerja dan Kinerja dengan
mengembangkan variabel yang lebih luas,
2. Untuk
Studio 5 sebaiknya selalu menjalin komunikasi dua arah secara persuasif untuk
menghindari ketegangan yang terjadi, dan buat pimpinan jangan terlalu menggunakan
posisinya saat berkomunikasi secara pribadi dengan karyawan supaya tidak
terjadi kekakuan.
