Minggu, 02 September 2012

komunikasi persuasif karyawan skripsi del jeama ilkom 05


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan jasa fotografi di Kota Samarinda mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Kota Samarinda dinilai sebagai kota yang memiliki nilai pasar yang cukup menarik para produsen industri foto untuk mengembangkan bisnisnya. Ketertarikan produsen tersebut dipicu oleh tingginya minat konsumen, kemampuan atau daya beli, minat konsumen dan daya beli yang baik. Namun di satu sisi hal ini juga memancing persaingan yang sangat kompetitif diantara produsen.
Dari pengamatan yang dlakukan oleh penulis pada industri fotografi khususnya di Samarinda produsen tergolong menjadi dua kelompok, yaitu : studio foto dan fotografer freelance. Dari sini bisa dlihat pola persaingan menjadi berkembang cukup luas yaitu : antara studio foto yang satu dengan studio foto lainnya, studio foto dengan fotografer freelance dan diantara sesama fotografer freelance.
Menurut Ignasius Untung, seorang pengamat fotografer professional, perkembangan industri fotografi di Indonesia terbilang unik. Pada industri ini persaingan menumpuk pada level basic dan advance (Sumber : The Light Magazine), sangat banyak para pemula yang bermain di level produk yang masih rendah, hal ini disebabkan karena keterbatasan para pemain di level tersebut untuk meningkatkan kualitas produknya, demikian pula hal ini terjadi di Samarinda. Disamping itu konsumen juga masih memiliki kemampuan yang terbatas untuk menilai kualitas produk foto yang baik, sementara di level professional pemain masih cenderung sedikit dan kompetisi masih belum begitu ketat, dan di dukung oleh konsumen yang lebih sfesifik.
Studio foto dewasa ini sudah mulai di kelola secara lebih khusus dengan lebih professional dan manajemen yang baik, sebagai organisasi bisnis, agar tetap bertahan dan mampu bersaing dengan kompetitor perlu melakukan upaya untuk mengelola sumber daya yang dimiliki terutama sumber daya manusia yang sampai saat ini masih menjadi penentu keberhasilan perusahaan.
Faktor manusia sangat berperan dalam pencapaian tujuan organisasi. Sumber daya terpenting dalam organisasi adalah sumber daya manusia. Posisi manusia sebagai bagian terpenting dan esensial dalam menjapai tujuan akhir dari sebuah corporasi.  Terlebih dalam usaha studio foto ini dimana peran manusia memiliki fungsi yang sangat strategis, dimana hampir semua kegiatan dalam usaha studio  foto memerlukan manusia sebagai komponen yang paling penting.
Pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan akan sangat bergantung pada berperannya pimpinan. Pimpinan mempunyai peranan penting karena besarnya tanggung jawab dalam memimpin dan menjamin kelancaran tugas para karyawan. Pimpinan dan karyawan sebagai sumber daya manusia dalam organisasi memiliki kiat pengelolaan suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan.
Tenaga kerja merupakan aset bagi sebuah perusahaan. Organisasi sebagai bentuk persekutuan dua orang atau lebih yang bekerja sama perlu meningkatkan kinerja karyawan dalam upaya mencapai tujuannya. Peningkatan kinerja karyawan akan berdampak pada pencapaian efektivitas dan efisiensi organisasi.
Produktivitas kerja karyawan  Studio 5 photography  semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan kemampuan karyawan dalam melaksanakan tugas pekerjaan tepat pada waktunya, tingkat absensi karyawan per bulan yang dulunya mempunyai absensi rata- rata 3-4 kali perbulan per karyawan menjadi 1-2 kali perbulan per karyawan, dan ketepatan waktu karyawan dalam masuk kerja. Studio 5 photography  perlu lebih meningkatkan produktivitas kerja karyawannya, apalagi sebagai salah satu usaha yang bergerak dibidang jasa pelayanan, kompensasi bagi karyawan biasanya berdasarkan kepangkatan dan senioritas dalam bentuk bonus, insentif dan penghargaan kepada karyawan yang berprestasi.
Seiring dengan perkembangan zaman, gaya kepemimpinan yang telah mengalami perubahan yaitu pimpinan lebih menghargai dan terbuka terhadap masukan yang diberikan karyawan sehingga kerja sama yang berlangsung secara timbal balik. Tidak seperti perusahaan berbentuk perseroan terbatas (PT) yang kepemilikanya hanya oleh pemodal tertentu, sejak awal pendirianya Bumiputera sudah menganut sistem kepemilikan dan penguasaan yang unik, yakni bentuk badan usaha mutual atau usaha bersama.
Upaya pimpinan dalam meningkatkan kinerja karyawan ini tidak terlepas dari adanya komunikasi. Komunikasi merupakan faktor penting kehidupan suatu organisasi baik organisasi yang dilakukan oleh pimpinan terhadap karyawan maupun komunikasi yang dilakukan oleh karyawan itu sendiri. Peran pimpinan dalam mengerakkan sumber daya yang ada sangat menentukan terhadap sukses tidaknya organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Tujuan memilih teknik ini adalah memperoleh efek yang langsung atau tahan lama sesuai dengan yang diinginkan komunikator.  Komunikasi persuasifdisini lebih mengarah pada kegiatan psikologis, suatu teknik komunikasi yang memiliki aspek-aspek manusiawi.
Beberapa teknik dalam komunikasi persuasif yang dikemukakan oleh Effendy (1992: 22) yaitu: Pertama, Teknik Integrasi adalah kemampuan komunikator untuk menyatukan diri secara komunikatif dengan komunikan.
Kedua, Pay-Off Idea adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara mengiming- ngiming hal yang menguntungkan atau yang menjanjikan harapan. Ketiga, Iching Device yaitu menata pesan komunikasi dengan himbauan emosional sedemikian rupa sehingga komunikan menjadi lebih tertarik.
Adanya komunikasi persuasif yang diterapkan di lingkungan kerja Studio 5 photography Samarinda ini adalah mempererat hubungan pimpinan dan karyawan yang secara tidak langsung akan mampu meningkatkan kinerja karyawan. Dari latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian Penerapan Komunikasi Persuasif Terhadap Budaya Kerja Karyawan Studio 5 photography Samarinda karena didalam suatu perusahaan,
komunikasi itu sangat penting. Seperti yang dijelaskan oleh Lindgren (dalam Effendy, 2001: 17) yang menyatakan bahwa Effective Leadership Means Effective Communication . Seorang pimpinan harus mampu melaksanakan komunikasi secara efektif jika ingin melaksanakan kepemimpinan yang efektif. Seorang pimpinan berkomunikasi efektif bila ia mampu membuat para karyawan melakukan kegiatan tertentu dengan kesadaran, kegairahan, dan kegembiraan. Suasana seperti itu diharapkan dapat meningkatkan kinerja yang tinggi.
1.2.       RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang ini, serta untuk mengetahui ssecara lebih lanjut tentang komunikasi dan juga kinerja karyawan, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana pola hubungan kerja karyawan Studio 5 photography  dengan pimpinan Perusahaan.
2.      Apakah komunikasi kerja yang dibangun dalam Studio 5 photography  sudah bisa berjalan dengan baik.
3.      Sampai sejauhmana peningkatan budaya kerja dan kinerja karyawan Studio 5 photography  dalam menjalankan aktifitas kerja.



1.3.       TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1.      Ingin mengetahui apakah ada pola hubungan karyawan dan pimpinan di Studio 5 photography.
2.      Ingin melihat besar efektifitas penggunaan komunikasi Persuasive Pimpinan Studio 5 photography  terhadap upaya peningkatan budaya kerja dan kinerja karyawan.
3.      Ingin mengetahui apakah pendekatan komunikasi persuasive sudah sesuai yang diharapkan oleh karyawan Studio 5 photography Samarinda.
1.4.       MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang didapat dalam kegiatan penelitian ini adalah :
1.         Bagi Studio 5 photography  photograpi untuk mengetahui bagaimana proses dan keberhasilan pendekatan antara karyawan dan pimpinan melalui komunikasi persuasive yang dibangun dilingkungan kerja.
2.        Untuk memperkaya literature khususnya dibidang komunikasi dengan kaitannya dengan kegiatan usaha Jasa khususnya Studio Foto.
3.        Bagi penulis Merupakan suatu sarana untuk menerapkan ilmu pegetahuan yang diperolah selama kuliah, khususnya pada masalah yang terkait dengan masalah komunikasi perusahaan.

 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Teori dan Konsep
Dalam sebuah penelitian ilmiah, diperlukan adanya teori-teori sebagai landasan konsep yang akan diajukan. Berikut beberapa pengertian dari teori-teori yang dapat dijadikan acuan dalam penelitian ini.
Beberapa kerangka teori yang akan digunakan dalam menganalisis permasalahan utama dalam penelitian ini antara lain :
2.1.1        Strategi Komunikasi
Prof. Dr. Onong Uchjana Effendy menjelaskan bahwa : Strategi komunikasi adalah paduan dari perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen komunikasi (communication management) untuk mencapai suatu tujuan komunikasi. Strategi komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk arah komunikasi, tetapi juga menunjukkan bagaimana taktik operasional komunikasi.
Kutipan di atas menunjukkan bahwa strategi komunikasi merupakan bagian dari konsep manajemen komunikasi dalam pencapaian tujuan yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara praktis harus dilakukan. Strategi komunikasi juga menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan komunikasi secara efektif. Lebih lanjut, Onong Uchjana Effendy menjelaskan bahwa : Strategi komunikasi mempunyai fungsi untuk menyebarluaskan pesan komunikasi yang bersifat informatif, persuasif, dan instruktif, secara sistematis kepada sasaran untuk memperoleh hasil yang optimal dan menjembatani kesenjangan budaya akibat kemudahan diperolehnya dan dioperasionalkannya media masa yang begitu ampuh, yang jika dibiarkan akan merusak nilai-nilai budaya.
Beliau juga mengemukakan beberapa komponen-komponen dalam strategi komunikasi, antara lain:
1)      Mengenali sasaran komunikasi.
Sebelum melancarkan komunikasi perlu dipelajari siapa saja yang akan menjadi sasaran komunikasi. Mengenali sasaran komunikasi bergantung pada tujuan komunikasi, apakah agar komunikan hanya sekedar mengetahui (dengan metode informatif) atau agar komunikan melakukan tindakan tertentu (metode persuasif atau instruktif).  Onong Uchjana Effendy; Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek); PT Remaja Rosdakarya; Bandung; 1992; hal. 32.
2)      Pemilihan media komunikasi
Untuk mencapai sasaran komunikasi komunikator harus dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa media komunikasi, tergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan dan teknik yang akan digunakan. Pemilihan media komunikasi di sini yang digunakan dalam berkomunikasi berupa bahasa.
Pesan dalam bahasa yang disampaikan ini bisa berupa pesan verbal dan pesan non verbal. Pesan yang berbentuk verbal ini berupa pesan yang dapat diuraikan dalam bentuk kata–kata yang biasa diwujudkan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Sedangkan pesan yang berupa non verbal ini berbentuk gerak tubuh, ekspresi wajah ,tekanan suara, bau dan lainnya. Komunikasi non verbal juga efektif bila komunikasi verbal sulit diterapkan dalam proses pendidikan anak autisme.
3)      Pengkajian tujuan pesan komunikasi
Pesan komunikasi mempunyai tujuan tertentu. Ini menentukan teknik yang harus diambil, apakah itu teknik informasi, teknik persuasi, atau teknik instruksi. Pesan komunikasi terdiri atas isi pesan dan lambang. Isi pesan komunikasi bisa satu, tetapi lambang yang digunakan bisa bermacam-macam. Lambang yang bisa dipergunakan untuk menyampaikan isi pesan adalah bahasa, gambar, warna dan lain-lain.
2.1.2 Komunikasi Persuasif
Ronald L. Applbaum dan Karl W.E Anatol (1974:12) dalam Komunikasi Persuasif mendefinisikan komunikasi persuasif sebagai berikut : Komunikasi yang kompleks ketika individu atau kelompok mengungkapkan pesan (sengaja atau tidak sengaja) melalui caracara verbal dan non verbal untuk memperoleh respon tertentu dari individu atau kelompok lain.
Adapun Dedy Djamaluddin menjelaskan sebagai berikut :  ”Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bersifat mempengaruhi tindakan, perilaku, pikiran dan pendapat tanpa dengan cara paksaan, baik itu fisik maupun non-fisik”.
Kedua kutipan di atas dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa dalam berkomunikasi persuasif, argumen komunikator seyogyanya masuk akal atau logis, sehingga komunikan merasa yakin akan pesan persuasif yang disampaikannya dan akhirnya mau berperilaku sesuai kehendak komunikator. Karakteristik komunikator sangat penting untuk mencapai tujuan persuasifnya, sebab yang berpengaruh bukan hanya pesan persuasifnya saja, tetapi kondisi komunikator juga turut berpengaruh. Komunikator tidak akan dapat mempengaruhi atau bahkan merubah sikap, tindakan dan pendapat seseorang hanya dengan mengatakannya saja.

2.1.2.1  Karakteristik Komunikator Dalam Proses Persuasif
Efektifitas dan keberhasilan komunikasi persuasif tidak bisa lepas dari kredibilitas komunikator dan kepiawaiannya mengemas pesan-pesan yang meyakinkan audiens (komunikan) tentang kebenaran dan pentingnya pesan yang ia sampaikan. Memang, dalam sebuah proses komunikasi, pesan yang diterima audiens bukan hanya ditentukan oleh isi pesannya saja, melainkan oleh berbagai faktor, dan faktor tersebut yang terpenting adalah komunikator. Aristoteles mengatakan bahwa komunikator pada hakikatnya tidak hanya mengkomunikasikan sebuah pesan, tetapi dirinya sendiri adalah pesan itu sendiri. Sesungguhnya ada 3 komponen dalam karakteristik sumber atau komunikator, yaitu credibility, attractiveness dan power (kekuasaan), yang dapat dijelaskan sebagai berikut
1)      Credibility (kredibilitas)
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikan tentang sifat-sifat komunikator, meliputi :
a.         Kredibilitas adalah persepsi komunikan.
b.         Kredibilitas berkenaan dengan sifat-sifat komunikator yang selanjutnya disebut dengan komponen-komponen kredibilitas. Komponen-komponen kredibilitas terdiri dari 2 hal yang paling penting, yaitu keahlian dan kepercayaan. Keahlian adalah kesan yang dibentuk komunikan tentang kemampuan komunikator dalam hubungannya dengan topik yang dibicarakan. Komunikator yang dinilai tinggi dianggap sebagai cerdas, mampu, ahli dan berpengalaman. Kepercayaan adalah kesan komunikan tentang komunikator yang berkaitan dengan wataknya, apakah komunikator dinilai jujur, tulus, bermoral, adil, etis atau bahkan sebaliknya.  Karena kredibilitas itu masalah persepsi, jadi kredibilitas dapat berubah-ubah tergantung pada pelaku persepsi atau komunikan, topic yang dibahas dan situasi pada penyampaian pesan. Kredibilitas seorang komunikator dapat berubah bila terjadi perubahan khalayak, topik dan waktu. Koehler, Annatol, dan Applbaum (1978:144-147) menambahkan 4 komponen dalam kredibilitas yaitu:21
(1)          Dinamisme, komunikator memiliki dinamisme bila dipandang sebagai bergairah, bersemangat, aktif, tegas dan berani.
(2)          Sosialbilitas, kesan komunikan tentang komunikator sebagai orang yang periang dan senang bergaul.
(3)          Kooreientasi, merupakan kesan komunikan tentang komunikatorsebagai orang yang mewakili kelompok yang disenangi danmewakili nilai-nilai.
(4)          Karisma, digunakan untuk menunjukkan suatu sifat yang luar biasa dimiliki oleh komunikator yang menarik dan mengendalikan komunikan seperti magnet menarik benda-benda sekitarnya.
2)      Attractiveness (atraksi)
Atraksi ini lebih kepada bentuk fisik, daya tarik fisik, ganjaran, kesamaan dan kemampuan. Atraksi fisik menyebabkan komunikator menarik dan karena ia menarik sehingga mempunyai daya persuasif. Daya tarik fisik ini dapat berupa paras wajah yang cantik atau tampan dan dalam berpakaian. Sedangkan yang dimaksud dengan kesamaan adalah kesamaan sikap dan kepercayaan. Seseorang akan mudah berempati dan merasakan perasaan orang lain yang dipandangnya sama dengan dirinya, yang dapat berupa kepercayaan, sikap, maksud dan nilai-nilai sehubungan dengan suatu persoalan.
3)      Power (kekuasaan)
Kekuasaan adalah kemampuan untuk menimbulkan ketundukan.Kekuasaan menyebabkan seorang komunikator dapat memaksakan kehendaknya pada orang lain karena ia mempunyai sumber daya yang penting. Berdasarkan sumber daya yang dimiliki seorang komunikator, kekuasaan dapat dibedakan sebagai berikut :
a)         Kekuasaan koersif
Kemampuan komunikator untuk mendatangkan ganjaran atau hukuman pada komunikan. Ganjaran dan hukuman itu dapat berupa personal misalnya benci dan suka atau impersonal, misalnya pemecatan dan kenaikan pangkat.
b)        Kekuasaan keahlian
Kekuasaan ini berasal dari pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan keahlian yang dimiliki oleh komunikator. Misalnya seorang guru memberikan pekerjaan rumah kepada muridnya untuk lebih memahami mata pelajaran yang telah disampaikan di kelas.
c)         Kekuasaan rujukan
Di sini komunikan menjadikan komunikator sebagai kerangka rujukan untuk menilai dirinya, komunikator dikatakanmemiliki kekuasaan rujukan bila ia berhasil menanamkan kekaguman pada komunikan.
d)        Kekuasaan legal
Kekuasaan ini berasal dari seperangkat peraturan atau norma yang menyebabkan komunikator berwenang untuk melakukan suatu tindakan. Seperti Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota dan lain sebagainya.
Kekuasaan timbul dari interaksi antara komunikator dengan komunikan. Jenis apapun kekuasaan yang dipergunakan, kekuasaan adalah pengaruh yang paling lemah dibandingkan dengan kredibilitas dan atraksi, sehingga selayaknya kekuasaan digunakan setelah kredibilitas dan atraksi berhasil diterapkan pada komunikan.

2.1.2.2  Proses Komunikasi Persuasif
Komunikasi persuasif terdiri dari beberapa proses sebagai berikut:
1)        Landasan sikap 
Menurut Martin Fisbein, sikap adalah suatu kecenderungan untuk memberikan reaksi yang menyenangkan, tidak menyenangkan atau netral terhadap suatu obyek atau sekumpulan obyek. Komunikator harus menghubungkan pesannya dengan memotivasi faktor-faktor dalam pikiran komunikan. Jika komunikator menginginkan suatu sikap positif terhadap komunikan maka hubungkan dengan pemenuhan kebutuhan, tujuan dan ungkapan nilai-nilai yang mendasar. Terdapat empat macam argumen yang membentuk hubungan antara faktor motivasi dengan obyek persuasi, yaitu :
a)        Argumen kontigensi
Hubungan kontigensi adalah sebab-akibat atau juga disebut hubungan kemungkinan. Persuasi yang dilakukan dengan cara ini diambil dari pemikiran bahwa tanggapan yang benar terhadap obyek komunikasi akan menghasilkan pemuasan kebutuhan, pencapaian tujuan atau ungkapan nilai. Setiap komunikasi persuasif dalam menggunakan fakta-fakta untuk membangun mata rantai sebab-akibat antara komunikator dengan memotivasi komunikan maka komunikator tersebut menggunakan hubungan kontigensi.
b)        Argumentasi kategorisasi
Argumen kategorisasi adalah bagian dari seluruh argumentasi dengan cara mendahulukan alasan-alasan kemudian disusul dengan tujuan dari proses komunikasi tersebut. Sebagai contoh seorang pedagang memberikan alasan ”kalau ingin barang yang lebih bagus mutunya” dan dilanjutkan dengan ”harus memilih barang yang harganya lebih mahal”. Berarti pedagang tersebut menggunakan argumentasi kategorisasi.
c)      Argumentasi persamaan atau perbandingan
Argumentasi ini menghubungkan komunikan dengan obyek lain yang diketahui oleh komunikator sehingga komunikan akan memandang komunikator sebagai orang yang menyenangkan. Misalnya : seorang pedagang membandingkan merk produk yang laku keras di pasaran dengan merk produk yang akan dibeli oleh konsumen.
d)       Argumentasi koinsidental
Argumentasi koinsidental adalah argumen yang dipandang sebagai kebiasaan. Argumentasi ini tidak dapat dibentuk dengan pembuktian dan penataran, akan tetapi berkaitan dengan penyajian obyek persuasi atau komunikan dan pesanpesan motivasi didalam konteks yang sama.



2.1.2.3   Media Komunikasi Persuasif
Didalam komunikasi persuasif, juga dikenal adanya beberapa media, yaitu:
1.        Verbal Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata yang dinyatakan secara oral atau lisan maupun secara tertulis. Komunikasi verbal merupakan karakteristik khusus manusia, tidak ada makhluk lain yang dapat menyampaikan macam-macam arti melalui kata-kata. Kata-kata dapat juga dimanipulasi untuk menyampaikan secara eksplisit sejumlah arti.
Kata-kata yang disebut juga dengan bahasa dapat didefinisikan menjadi 2, yaitu fungsional dan formal:
a.              Fungsional Melihat bahasa dari segi fungsinya, sehingga diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan atau ide. Bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan diantara anggota-anggota kelompok sosial. Bahasa juga diberi arti secara arbiter (semaunya) oleh kelompok-kelompok social tertentu.
b.             Formal Menyatakan bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa. Dedi (2001) mengatakan Setiap bahasa mempunyai peraturan-peraturan sendiri bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaian agar dapat memberikan arti.
Bahasa dalam proses komunikasi harus dapat dipahami dan mempunyai kesamaan makna oleh kedua belah pihak antara komunikator dan komunikan. Kesamaan terjadi bila komunikator dan komunikan berasal dari kebudayaan, status sosial, pendidikan dan ideologi yang sama, maksimal mempunyai sejumlah pengalaman yang sama.
Ada tiga fungsi bahasa dalam proses komunikasi persuasif, antara lain:
1)        Bahasa untuk menyatakan diri Berbagai cara yang menjadi kebiasaan seseorang dalam berbahasa telah tertanam secara mendalam di alam bawah sadar, sehingga bahasa mencerminkan struktur diri dan pandangan seseorang. Namun sebenarnya, karena ”diri” seseorang tersusun dari banyak ”diri” yang berbeda, yang masing-masing mewujudkan dirinya sendiri pada setiap waktu dengan berbagai cara, maka terdapat beberapa aspek penggunaan bahasa yang secara sadar berubah-ubah dari satu pembicaraan ke pembicaraan lainnya, dari satu situasi ke situasi lainnya.
2)      Bahasa untuk mengkomunikasikan makna Fungsi kedua ini adalah untuk membantu komunikan memahami makna pesan setepat mungkin.
3)      Bahasa untuk mengkomunikasikan perasaan dan nilai Fungsi yang ketiga ini adalah untuk membantu komunikator mengisyaratkan pada komunikan suatu perasaan, sikap dan nilai yang diutarakan komunikator tersebut.
2.        Non-verbal
Komunikasi non-verbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata, komunikasi ini menggunakan gerakan tubuh, sikap tubuh, intonasi nada (tinggirendahnya nada), kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan
sentuhan-sentuhan. Komunikasi non verbal ini paling banyak pengaruhnya dalam proses komunikasi persuasif, karena dalam prosesnya komunikan lebih banyak dan lebih mempercayai tandatanda non-verbal daripada verbal.  Menurut Mark L. Knapp, fungsi komunikasi non-verbal dalam hubungannya dengan komunikasi verbal, dibagi menjadi
lima, antara lain :
a.         Repetisi Mengulang kembali gagasan atau ide yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya : setelah menjelaskan penolakan makan biasanya disusul dengan menggelengkan kepala berkali-kali.
b.        Substitusi Menggantikan komunikasi verbal. Misalnya bila menunjukkan persetujuan, maka akan menganggukkan kepala.
c.         Kontradiksi Menolak pesan verbal atau memberikan makna lain terhadap komunikan. Misalnya memuji prestasi teman tetapi dengan mencibirkan bibir.
d.        Komplemen Melengkapi dan memperkaya pesan non-verbal. Misalnya bila terluka, maka mimik wajah akan memberikan makna sesakit apa luka itu diderita.
e.         Aksentuasi Menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya, betapa jengkelnya komunikator terhadap komunikan sambil memukul meja.
f.         Bentuk Komunikasi Persuasif Bentuk komunikasi persuasif yang dilakukan oleh Da’i Abdul Haq S.Ag dalam penelitian ini adalah secara tatap muka atau bentuk komunikasi antar pribadi. Komunikasi antar pribadi sebenarnya adalah bukan sekadar komunikasi yang terjalin antara dua orang tanpa perantara media (face to face). Burgoon dan Ruffner (1978) mengatakan bahwa komunikasi antar pribadi harus dibedakan dari berbicara di muka umum maupun komunikasi di dalam kelompok.
Komunikasi antar pribadi juga harus mampu mencerminkan bahwa manusia yang berkomunikasi mampu mengekspresikan kehangatan, keterbukaan, dukungan terhadap pihak yang sedang diajak berkomunikasi.
Sebagaimana penjelasan diatas, ada tujuh sifat yang menunjukkan bahwa suatu komunikasi antara dua individu merupakan komunikasi antar pribadi (Liliweri, 1991). Sifat-sifat komunikasi antar pribadi itu adalah :
1.    Melibatkan di dalamnya perilaku verbal dan non verbal.
2.    Melibatkan perilaku spontan, tepat, dan rasional.
3.    Komunikasi antar pribadi tidaklah statis, melainkan dinamis.
4.    Melibatkan umpan balik pribadi, hubungan interaksi, dan koherensi (pernyataan yang satu harus berkaitan dengan yang lain sebelumnya).
5.    Komunikasi antar pribadi dipandu oleh tata aturan yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik.
6.    Komunikasi antar pribadi merupakan suatu kegiatan dan tindakan.
7.    Melibatkan di dalamnya bidang persuasif. (Lita (2004)

2.1.3         Budaya Kerja
Budaya berasal dari bahasa sansakerta “budhayah” sebagai bentuk jamak dari kata dasar “budhi” yang artinya akal atau segala sesuatu yang berkaitan dengan akal pikiran, nilai-nilai dan sikap mental (Kepmenpan No. 25/KEP/M.PAN/04/2002). Budidaya berarti memberdayakan budi sebagaimana dalam bahasa Inggris di kenal sebagai culture (latin – cotere) yang semula artinya mengolah atau mengerjakan sesuatu (mengolah tanah pertanian), kemudian berkembang sebagai cara manusia mengaktualisasikan nilai (value), karsa (creativity), dan hasil karyanya (performance). Budidaya dapat juga diartikan sebagai keseluruhan usaha rohani dan materi termasuk potensi-potensi maupun keterampilan masyarakat atau kelompok manusia. Budaya selalu bersifat sosial dalam arti penerusan tradisi sekelompok manusia yang dari segi materialnya dialihkan secara historis dan diserap oleh generasi-generasi menurut “nilai” yang berlaku.
Nilai disini adalah ukuran-ukuran yang tertinggi bagi perilaku manusia. Slocum (1995) dalam West (2000:128) mendefinisikan budaya sebagai asumsi-asumsi dan pola-pola makna yang mendasar, yang dianggap sudah selayaknya dianut dan dimanifestasikan oleh semua fihak yang berpartisipasi dalam organisasi. Budaya diartikan juga sebagai seperangkat perilaku, perasaan dan kerangka psikologis yang terinternalisasi sangat mendalam dan dimiliki bersama oleh anggota organisasi. Sehingga untuk merubah sebuah budaya harus pula merubah paradigma orang yang telah melekat.
Pada bagian lain Ellyana  (2008) memandang budaya sebagai sesuatu yang mengacu pada nilai-nilai, keyakinan, praktek, ritual dan kebiasaan-kebiasaan dari sebuah organisasi. Dan membantu membentuk perilaku dan menyesuaikan persepsi. Pentingnya budaya dalam mendukung keberhasilan satuan kerja menurut Newstrom dan Davis (1993:58-59); budaya memberikan identitas pegawainya, budaya juga sebagai sumber stabilitas serta kontinyuitas organisasi yang memberikan rasa aman bagi pegawainya, dan yang lebih penting adalah budaya membantu merangsang pegawai untuk antusias akan tugasnya.
Sedangkan tujuan fundamental budaya adalah untuk membangun sumber daya manusia seutuhnya agar setiap orang sadar bahwa mereka berada dalam suatu hubungan sifat peran sebagai pelanggan pemasok dalam komunikasi dengan orang lain secara efektif dan efisien serta menggembirakan (Triguno, 2004:6).
Secara sederhana kerja didefiniskan sebagai segala aktivitas manusia mengerahkan energi bio-psiko-spiritual dirinya dengan tujuan memperoleh hasil tertentu (Sinamo. JH,. 2002:43).  Menurut Hasibuan (2000:47) kerja adalah pengorbanan jasa, jasmani, dan pikiran untuk menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa dengan memperoleh imbalan prestasi tertentu.
Kerja perlu diartikan sebagai kegiatan luhur manusia. Bukan saja karena kerja manusia dapat bertahan hidup tetapi juga kerja merupakan penciptaan manusia terhadap alam sekitarnya menjadi manusiawi. Dengan demikian kerja juga merupakan realisasi diri.  Pada hakekatnya bekerja merupakan bentuk atau cara manusia untuk mengaktualisasikan dirinya. Bekerja merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai, keyakinan-keyakinan yang dianutnya dan dapat menjadi motivasi untuk melahirkan karya yang bermutu dalam pencapaian suatu tujuan (Kepmenpan No. 25/KEP/M.PAN/04/2002).
Dalam agama Islam bekerja adalah ibadah, perintah Tuhan atau panggilan mulia. Sinamo (2002:71) membagi kerja dalam delapan doktrin yaitu kerja sebagai rahmat, kerja adalah amanah, kerja adalah panggilan, kerja adalah aktualisasi, kerja adalah ibadah, kerja adalah seni, kerja adalah kehormatan, kerja adalah pelayanan. Sedangkan Dostoyevsky dalam Ellyana (2008) mengganti istilah kerja dengan kata “pembelajaran”.
Bagaimana dengan budaya kerja? Sebenarnya budaya kerja sudah lama dikenal oleh manusia, namun belum disadari bahwa suatu keberhasilan kerja berakar pada nilai-nilai yang dimiliki dan perilaku yang menjadi kebiasaan. Nilai-nilai tersebut bermula dari adat istiadat, agama, norma dan kaidah yang menjadi keyakinan pada diri pelaku kerja atau organisai. Nilai-nilai yang menjadi kebiasaan tersebut dinamakan budaya dan mengingat hal ini dikaitkan dengan mutu kerja, maka dinamakan budaya kerja. (Triguno, 2004:1) Budaya kerja merupakan suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan pendorong,membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi yang tercermin dari sikap menjadi perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai “kerja atau bekerja”. (Triguno, 2004). Budaya kerja adalah cara kerja sehari-hari yang bermutu danselalu mendasari nilai-nilai yang penuh makna, sehingga menjadi motivasi, memberiinspirasi, untuk senantiasa bekerja lebih baik, dan memuaskan bagi masyarakatyang dilayani (Kepmenpan Nomor 25/KEP/M.PAN/04/2002). Sedangkan menurut Sulaksono, (2002) budaya kerja adalah ‘the way we are doing here” artinya sikap dan perilaku pegawai dalam melaksanakan tugas. Dengan demikian, maka setiap fungsi atau proses kerja harus mempunyai perbedaan dalam cara bekerjanya, yang mengakibatkan berbedanya pula nilai-nilai yang sesuai untuk diambil dalam kerangka kerja organisasi.
Seperti nilai-nilai apa saja yang sepatutnya dimiliki, bagaimana perilaku setiap orang akan dapat mempengaruhi kerja mereka, kemudian falsafah yang dianutnya seperti “budaya kerja” merupakan suatu proses tanpa akhir” atau “terus menerus”. Biech dalam Triguno (2004:31) bahwa semuanya mempunyai arti proses yang panjang yang terus menerus disempurnakan sesuai dengan tuntutan dan kemampuan SDM itu sendiri sesuai dengan prinsip pedoman yang diakui.
Dari berbagai pengertian tentang budaya kerja dapat disimpulkan bahwa budaya kerja adalah cara pandang yang menumbuhkan keyakinan atas dasar nilainilai yang diyakini pegawai untuk mewujudkan prestasi kerja terbaik.
2.1.3.1  Terbentuknya Budaya Kerja
Budaya kerja terbentuk begitu satuan kerja atau organisasi itu berdiri. “being developed as they learn to cope with problems of external adaption and internal integration” artinya pembentukan budaya kerja terjadi tatkala lingkungan kerja atau organisasi belajar menghadapi masalah, baik yang menyangkut perubahan-perubahan ekternal maupun internal yang menyangkut persatuan dan keutuhan organisasi (Sithi- Amnuai, Ndraha, 2003:76). Perlu waktu bertahun bahkan puluhan dan ratusan tahun untuk membentuk budaya kerja. Pembentukan budaya di awali oleh (para) pendiri (founders) atau pimpinan paling atas (top management) atau pejabat yang ditunjuk,  dimana besarrnya pengaruh yang dimilikinya akan menentukan suatu cara tersendiri apa yang dijalankan dalam satuan kerja atau organisasi yang dipimpinnya. Gambar berikut merupakan proses terbentuknya budaya kerja dalam satuan kerja atau organisasi.

Gambar 2.1 Proses Terbentuknya Budaya Kerja






Sumber : Robbins (1996:302)
Robbins (1996:301-302) menjelaskan bagaimana budaya kerja di bangun dan dipertahankan ditunjukkan dari filsafat pendiri atau pimpinannya. Selanjutnya budaya ini sangat dipengaruhi oleh kriteria yang digunakan dalam mempekerjakan pegawai. Tindakan pimpinan akan sangat berpengaruh terhadap perilaku yang dapat diterima, baik dan yang tidak. Bagaimana bentuk sosialisasi akan tergantung kesuksesan yang dicapai dalam menerapkan nilai-nilai dalam proses seleksi. Namun secara perlahan nilai-nilai tersebut dengan sendirinya akan terseleksi untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan yang pada akhirnya akan muncul budaya kerja yang diinginkan. Meskipun perubahan budaya kerja memakan waktu lama dan mahal (Brown;1995, Furnham dan Gunter, 1993; Scheider, Gunarson dan Nilles-Jolly, 1994 dalam Ellyana (2008).
Sementara Collins dan Porras dalam Sinamo (2002:3-4) mengatakan bahwa Satuan kerja atau organisasi akan mampu mencapai sukses tertinggi jika ia memiliki;
1)      Sasaran-sasaran dan target-target yang agung;
2)      Keteguhan tetapi sekaligus fleksibel
3)      Budaya kerja yang dihayati secara fanatic
4)      Daya inovasi yang kreatif;
5)      Sistem pembangunan sumber daya manusia (SDM) dari dalam
6)      Orientasi mutu pada kesempurnaan, dan
7)      Kemampuan untuk terus menerus belajar dan berubah secara damai.
2.1.4        Kinerja
Kinerja adalah sesuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001). Menurut  Abraham (1993)  mengatakan kinerja merupakan proses yang dilakukan dan hasil yang dicapai oleh suatu organisasi dalam memberikan jasa atau produk kepada pelanggan dan kinerja sebagai rekaman hasil kerja yang diperoleh karyawan tertentu melalui kegiatan dalam kurun waktu tertentu.
Kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.  Menurut Mangkunegara (2001), kinerja adalah: hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kinerja adalah penampilan hasil karya personel baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Kinerja dapat merupakan penampilan individu maupun kerja kelompok personel. Penampilan hasil karya tidak terbatas kepada personel yang memangku jabatan fungsional maupun struktural, tetapi juga kepada keseluruhan jajaran personel di dalam organisasi (Ilyas, 2001).
Deskripsi dari kinerja menyangkut tiga komponen penting, yaitu: tujuan, ukuran dan penilaian. Penentuan tujuan dari setiap unit organisasi merupakan strategi untuk meningkatkan kinerja. Tujuan ini akan memberi arah dan memengaruhi bagaimana seharusnya perilaku kerja yang diharapkan organisasi terhadap setiap personel. Walaupun demikian, penentuan tujuan saja tidaklah cukup, sebab itu dibutuhkan ukuran, apakah seseorang telah mencapai kinerja yang diharapkan. Untuk kuantitatif dan kualitatif standar kinerja untuk setiap tugas dan jabatan memegang peranan penting.
Selanjutnya Gibson (1996) menyatakan setiap karyawan mempunyai hasil kerja yang berbeda, sedangkan Casio (2003) mengemukakan, kinerja merupakan suatu jaminan bahwa seseorang pekerja atau kelompok mengetahui apa yang diharapkannya dan memfokuskan kepada kinerja yang efektif. McCloy et al. (1994), menyatakan bahwa kinerja adalah kelakuan atau kegiatan yang berhubungan dengan organisasi, di mana organisasi tersebut merupakan keputusan dari pimpinan. Dikatakan bahwa kinerja bukan outcome, konsekuensi atau hasil dari perilaku atau perbuatan, tetapi kinerja adalah perbuatan atau aksi itu sendiri, di samping itu kinerja adalah multidimensi sehingga untuk beberapa pekerjaan yang spesifik mempunyai beberapa bentuk komponen kinerja yang dibuat dalam batas hubungan variasi dengan variabel-variabel lain.   Dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yaitu kecerdasan, stabilitas emosional, motivasi kerja, situasi keluarga, pengalaman kerja, kelompok kerja serta pengaruh eksternal.
2.1.4.1           Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Darma (2005) bahwa faktor-faktor tingkat kinerja staf meliputi: mutu pekerjaan, jumlah pekerjaan, efektifitas biaya dan inisiatif. Sementara karakteristik individu yang mempengaruhi kinerja meliputi: umur, jenis kelamin, pendidikan, lama kerja, penempatan kerja dan lingkungan kerja (rekan kerja, atasan, organisasi, penghargaan dan imbalan).
Gibson (1996) menyatakan terdapat tiga kelompok variabel yang mempengaruhi kinerja dan perilaku yaitu: (1) variabel individu, yang meliputi kemampuan dan ketrampilan, fisik maupun mental, latar belakang, pengalaman dan demografi, umur dan jenis kelamin, asal usul dan sebagainya. Kemampuan dan ketrampilan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kinerja individu, sedangkan demografi mempunyai hubungan tidak langsung pada perilaku dan kinerja, (2) variabel organisasi, yakni sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan, (3) variabel psikologis, yakni persepsi, sikap, kepribadian, belajar, kepuasan kerja dan motivasi.
 Persepsi, sikap, kepribadian dan belajar merupakan hal yang komplek dan sulit diukur serta kesempatan tentang pengertiannya sukar dicapai, karena seseorang individu masuk dan bergabung ke dalam suatu organisasi kerja pada usia, etnis, latar belakang, budaya dan ketrampilan yang berbeda satu sama lainnya. Uraian dari variabel kinerja dapat dilihat sebagai berikut:
1.      Tanggungjawab: adalah kesanggupan seorang bidan dalam menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya serta berani memikul risiko atas keputusan yang diambilnya atau tindakan yang dilakukannya.
2.      Inisiatif: adalah prakarsa atau kemampuan seorang bidan untuk mengambil keputusan, langkah-langkah atau melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok tanpa menunggu perintah dari atasan
3.      Jumlah pekerjaan: variabel ini berkembang berdasarkan kenyataan bahwapekerjaan itu berbeda-beda satu sama lain dimana beberapa diantaranya lebihmenarik dan menantang dibanding lainnya.
Menurut Muchlas (2006) terdapat 3 macam teori yang mendukung teorikarakteristik pekerjaan ini antara lain:
1.      Persyaratan tugas: model karakteristik pekerjaan dan ciri persyaratan tugasdalam organisasi itu.
2.      Jumlah produk yang dihasilkan dalam waktu tertentu dibandingkan dengan hasil yang seharusnya dicapai sesuai standar atau dibandingkan dengan hasil pekerjaan orang lain.
3.      Penilaian jumlah pekerjaan dilakukan menggunakan indikator: umpan balik dari rekan, atasan, bawahan, orientasi waktu dan menghargai produk dengan insentip yang sewajarnya, (Jain, 2006).
4.      Pemenuhan standar kerja: Brocklesby, J. And Cummings yang dikutip dalam Eriyatno (2006) menyebutkan pemenuhan standar kerja merupakan proses menghasilkan suatu kegiatan yang berjalan sempurna, seluruh pekerjaan dilaksanakan secara rapi, sempurna, dapat diterapkan dan akurat.
Indikator yang dapat dipakai untuk menilai pemenuhan standar kerja dapat dinilai dari mutu pekerjaan dengan cara: selalu menganalisis data, persiapan diri dalam bekerja, motivasi pengembangan diri, patuh pada standar kerja yang ditetapkan, rapi, tertib, tidak menghindari umpan balik, puas dengan perencanaan yang dapat dikerjakan dan berusaha menjadi yang terbaik. Kinerja merupakan gambaran tingkat suatu pelaksanaan kegiatan atau program dalam usaha mencapai tujuan, misi, dan visi organisasi. Istilah kinerja sering dipakai untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan individu atau kelompok individu.
Pengukuran kinerja merupakan suatu aktivitas penilaian pencapaian target-target tertentu yang mempuyai tujuan strategis organisasi. Hasil pengukuran terhadap capaian kinerja sebagai dasar bagi pengelola organisasi untuk perbaikan kinerja periode berikutnya.
2.1.5        Perkembangan Fotografi
Sejarah fotografi dimulai sejak 1857 ketika 2 orang tukang potret Woodbury dan page membuka studio foto pertama mereka disekitar Harmonie Batavia. Ini terjadi hanya 18 ahun sejak penemuan fotografi pada tahun 1839. sejak adanya sudio foto di Batavia, banyak para tukang foto baik yang amatir dan yang profesional membuat foto hiruk pikuk kota dengan keanekaragaman etnis.
Memandang sebuah objek dengan kamera tentulah tidak seluasa ketika melihatnya dengna mata telanjang, melalui viewfinder kita hanya mampu mengambil gambar dari sebagian yang mampu dilihat oleh mata. Oleh karena itu dibutuhkan keterampilan lebih untuk membidik sasaran yang akhirnya akan menentukan hasil foto yang baik. Berikut adalah beberapa cara bisa diaplikasikan pada proses pengambilan gambar :
  • Memenuhi ruang
Dalam fotografi sering muncul pertanyaan kalau tidak bisa menjadikan sesuatu menjadi bagus maka jadikanlah besar. Dengan memenuhi ruang dengan subyek anda tak mungkin salah lagi mengenai pusat perhatian
  • Menciptakan kedalaman
Untuk membuat gambar 2D menjadi hidup diperlukan kedalaman utuk memanipulasi elemen elemen yang terdapat di latar depan, tengah dan belakang.
  • Sudut memotret
Memotret sebuah objek harus dapat menunjukan karakteristik dari objek tersebut. Sehingga dalam mengambil gambar peran sudut dalam memotret menjadi sangat fatal jika diabaikan agar gambar yang di ambil dapat terlihat mendimensi (tidak flat). Angle yang biasa digunakan dapat ditentukan dari berbagai macam sudut untuk mempermudah biasanya untuk objek manusia sudutnya tidak terlalu extreme bahkan cenderung tidak memerlukan perubahan dari sudut pandang.
Fotografi adalah seni dan proses penghasilan gambar melalui cahaya pada film atau penukaan yang dipekakan.  Dalam seni rupa, Photography adalah proses pembuatan lukisan dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, Photography berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dan suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut pada media yang peka cahaya.
Photography sendiri berasal dari dua patah kata “photo” dan “graphy”.
·         Photo berasal dan bahasa Latin yang memiliki arti cahaya, sinar atau Iebih luas biasa diartikan pencahayaan, penyinaran.
·         Graphy berasal dan bahasa latin “Graphien” yang kurang lebih memiliki arti tulisan gambar atau design bentuk.
Jadi Photography dapat di artikan secara luas sebagai gambar mati atau lukisan yang diperoleh melalui media yang dikenal dengan nama kamera
Dunia fotografi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan jaman. Fotografi telah dikenal luas dalam masyarakat, karena fotografi dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal-hal yang menyangkut informasi visual seperti surat kabar, majalah dan sebagainya. Perkembangan fotografi di Indonesia dapat dilihat dari berkembangnya jumlah fotografer, klub fotografi dan makin majunya teknologi fotografi baik dari peralatan maupun perlengkapannya serta makin meningkatnya kualitas karyakarya fotografer Indonesia.
Demikian pula dengan perkembangan fotografi di Semarang, dari segi historis, Semarang menjadi tempat diadakannya kongres pertama GAPERFI (Gabungan Perhimpunan Seni Foto Indonesia) pada tahun 1955, yang sekarang berubah nama menjadi FPSI (Federasi Perhimpunan Senifoto Indonesia).
Dunia Fotografi Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat, karena sesungguhnya fotografi sudah sejak lama dikenal oleh orang Indonesia. Tercatat dalam sejarah dunia fotografi Indonesia, hanya dalam waktu dua tahun sejak fotografi ditemukan oleh manusia. Temuan baru itu sudah masuk ke bumi nusantara, selanjutnya fotografi mulai dikenal luas di seluruh Indonesia. Perkembangan fotografi yang cukup pesat terjadi karerna para fotografer mendirikan perkumpulan atau organisasi fotografi.
Tercatat banyak sekali perkumpulan fotografi yang lahir baik itu profesional ataupun amatir, hal ini sangat mempengaruhi dunia fotografi di Indonesia.  Singkat histori, Studio 5 berdiri pada tanggal 5 mei 2012 lounching dibukanya studio pada tanggal 5 juni 2012 oleh sebab itu studio dinamakan studio 5 karena pemiliknya pun lahir bertepatan pada tanggal 5. Selain simpel nama studiao 5 pun sangat mudah di ingat, oleh  sebab itu pemilik menggunakan angka 5 sebagai nama studio.
Nama pemilik studio 5 adalah Gafuri Ahmad,  berprofesi sebangai wirausahawan sekaligus seorang photografer.
Adapun alamat  studio 5 bertempat di jalan Tantina No 18 Gatot Subroto – Samarinda.
Jumblah karyawan :
-          Anto
-          Aldo
-          Awan
-          ayen
-          Dani
-          Eka
-          Rizki
-          Ricki abian
-          Obok (M. taufik)
Perkembangan fotografi yang cukup pesat tidak lepas dari semakin meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat kita.  Semakin meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat, mengakibatkan dunia fotografi di Samarinda  semakin berkembang dengan baik. Terbukti dari seringnya diadakan pameran, seminar, serta workshop di Kota Samarinda , walaupun masih kalah intensitasnya jika dibandingkan dengan seni lukis.
2.2  Definisi Konsepsional
Definisi konsepsional adalah batasan konsep yang digunakan penulis, sehingga memberikan pengertian yang tepat sebagai unsur penting dalam sebuah penelitian. Dari penjelasan di atas, maka peneliti membuat definisi konsepsional dari penerapan Komunikasi Persuasif Terhadap Budaya Kerja Karyawan Studio 5 photography Samarinda. Yang dilakukan ada beberapa tahapan, Pertama, Teknik Integrasi adalah kemampuan komunikator untuk menyatukan diri secara komunikatif dengan komunikan. Yang kedua adalah oleh atasan memberikan pemahaman melalui komunikasi persuasif kepada bawahannya. Selain itu juga untuk mempererat hubungan pimpinan dan karyawan yang secara tidak langsung akan mampu meningkatkan kinerja karyawan.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1       Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis  penelitian deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang berusaha menggambarkan  atau ditujukan untuk mendeskrpsikan gejala-gejala yang tejadi pada masa itu dengan memaparkan hasil temuannya secara sistematik dengan menekankan pada data faktual (Sandjaja & Haryanto, 2006:110).
Menurut Aaker et al. (2001:24) rancangan penelitian adalah perencanaan terinci yang digunakan sebagai pedoman studi penelitian yang mengarah pada tujuan dari penelitian tersebut. Selanjutnya menurut Kerlinger (1993:532) rancangan penelitian adalah suatu rencana, kerangka untuk mengkonseptualisasikan struktur relasi variabel-variabel suatu kajian penelitian. Rancangan atau desain penelitian umumnya terbagi atas 3 (tiga) bentuk, yaitu penelitian eksploratif (explorative research), penelitian deskriptif (descriptive research) dan penelitian penjelasan (explanatory research) (Umar, 1999:36). Penelitian eksploratif adalah jenis penelitian yang berusaha mencari ide-ide atau hubungan-hubungan yang baru. Sedangkan penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan menguraikan sifat-sifat atau karakteristik dari suatu fenomena tertentu.  Terakhir, penelitian eksplanatori adalah penelitian yang bertujuan menganalisis hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya.
Dari definisi diatas maka penulis memasukkan peneitian ini kedalam kelompok penelitian deskriptif, yang menghasilkan data deskriftif dengan mengumpulkan data berupa kata-kata baik tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Begitu pula penelitian akan memaparkan dan menggambarkan penerapan komunikasi persuasive untuk meningkatkan budaya kerja dan kinerja di Studio 5 photography  Samarinda
3.2       Fokus Penelitian
Dalam penelitian yang menjadi fokus penelitian penulis yaitu Penerapan dan penggunaan komunikasi Persuasif pimpinan terhadap peningkatan Budaya Kerja dan Kinerja Karyawan Studio 5 photography  Samarinda
3.3       Sumber Data
Sumber data didalam penelitian ini ada dua, yaitu key informan dan informan. Key informan yaitu Pimpinan Studio 5 photography  Gafuri Ahmad dan informan karyawan Studio 5 photography .  Sampling penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sensus Sampling. Nonprobility sampling menutut Kriyantono (2006:154) adalah sampel tidak melalui random, disini semua populasi belum tentu memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel, disebabkan pertimbangan-pertimbangan tertentu oleh peneliti. Sedangkan, Nonprobability sampling menurut Sugiono (2003:95) adalah teknik pengambilan sampel yang tidak member peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.
Jumlah anggota populasi adalah 10 karyawan sehingga dalam penelitian ini seluruh populasi akan diobeservasi, karena populasi penelitian adalah finit dan cenderung heterogen. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan metode sensus atau complete enumeration, atau penelitian ini tidak menggunakan sampel sehingga teknik pengambilan sampel tidak diperlukan
3.4       Teknik Pengumpulan Data                                                        
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
a.    Penelitan Kepustakaan
    Berupa data sekunder yang diperoleh dari buku-buku, dll
b.    Penelitian lapangan
1.    Observasi
     Observasi adalah pengamatan yang merupakan kegiatan kita yang utama dan teknik penelitian ilmiah yang penting. Dalam penelitian ini, observasi dilakukan untuk dan mengumpulkan data-data valid tentang Penerapan Komunikasi Persuasif dalam peningkatan budaya kerja dan kinerja Studio 5 photography.

2.    Wawancara
     Wawancara adalah percapakan dengan maksud tertentu. Wawancara dimaksudkan sebagai usaha memperoleh informasi dari orang yang diwawancarai (informan). Wawancara dilakukan secara terbuka terstruktur dengan pertanyaan yang fokus pada permasalahan sehingga informasi yang dikumpulkan cukup lengkap dan mendalam.
3.    Dokumentasi 
     Dokumentasi adalah pengumpulan data yang dilakukan untuk mendapatkan data sekunder berupa dokumen atau arsip, dan karya ilmiah yang releven dengan penelitian ini.
3.5       Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Sehingga penelitian ini berusaha memberikan gambaran dari data-data yang dikumpulkan untuk ditarik suatu kesimpulan mengenai Komunikasi Persuasif dalam meningkatkn budaya kerja dan kinerja karyawan di Studio foto 5. Dalam teknik analisis datanya, peneliti mengacu pada Model Interaktif oleh Miles dan Huberman (1992:20) sebagai berikut :





Gambar 2 : Analisis data model interaktif

Sumber : Miles dan Huberman (Terjemahan Tjejep Rohendi Rohidi, 1992:20)
   Adapun penjelasan dari model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.    Pengumpulan data
            Pengumpulan data adalah data pertama atau data mentah dikumpulkan dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan riset lapangan dan riset kepustakaan tentang penerapan Komunikasi Persuasif dalam meningkatkn budaya kerja dan kinerja karyawan di Studio foto 5.


2.    Reduksi Data
            Reduksi data atau penyederhanaan data adalah proses pemilihan, memfokuskan, menyederhanakan dan membuat abstraksi. Mengubah data mentah yang dikumpulkan dari penelitian ke dalam catatan yang telah disortir atau diperiksa. Tahap ini merupakan analisis yang dipertajam, membuang, memodifikasikan data sehingga kesimpulan dapat ditarik dan dibuktikan peneliti. Setiap data yang diperoleh mengenai Komunikasi Persuasif dalam meningkatkn budaya kerja dan kinerja karyawan di Studio foto 5 terlebih dahulu akan direduksi dan dilakukan penyaringan terhadap data-data yang dianggap relevan dengan fokus penelitian sebelum akhirnya disajikan dan ditarik suatu kesimpulan. Proses ini akan dilakukan terus-menerus hingga penelitian ini lengkap tersusun.
3.    Penyajian data
            Langkah berikutnya setelah proses reduksi data berlangsung adalah penyajian data yang dimaknai sebagai penyusunan sekumpulan informasi yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan mencermati penyajian data ini, maka akan dapat dipahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Artinya meneruskan analisisnya atau mencoba untuk mengambil sebuah tindakan dengan memperdalam temuan tersebut. Hal ini dilakukan untuk memudahkan bagi peneliti melihat gambaran secara penelusuran atau bagian-bagian tertentu dari data penelitian, sehingga dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan mengenai Komunikasi Persuasif dalam meningkatkn budaya kerja dan kinerja karyawan di Studio foto 5 photography.

4.    Penarikan Kesimpulan
            Menarik kesimpulan adalah data yang telah diproses dan telah disusun kemudian diambil kesimpulan atau makna dari data yang telah disederhanakan untuk disajikan dan sekaligus untuk memprediksi melalui pengamatan dari data yang ada. Dalam proses penarikan kesimpulan ini, peneliti berpegangan pada data yang telah direduksi atau yang telah disajikan mengenai Komunikasi Persuasif dalam meningkatkn budaya kerja dan kinerja karyawan di Studio foto 5 photography.
3.1  Jadwal Penelitian
            Penelitian ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2012. Waktu penelitian juga disesuaikan dengan situasi dilapangan dan dengan persetujuan dari obyek yang bersangkutan. Adapun lokasi dari penelitian ini adalah bertempat di studio 5 photography jalan Tantina No 18 Gatot Subroto – Samarinda.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.       Gambaran Umum Studio 5 dan Identitas Responden
Studio 5 berdiri pada tanggal 5 mei 2011 launching dibukanya studio pada tanggal 5 juni 2011 oleh sebab itu studio dinamakan studio 5 karena pemiliknya pun lahir bertepatan pada tanggal 5. Selain simpel nama studiao 5 pun sangat mudah di ingat, dan karena itu pemilik menggunakan angka 5 sebagai nama studio.  Adapun alamat  studio 5 bertempat di jalan Tantina No 18 Gatot Subroto – Samarinda.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik sekaligus pendiri dari studio 5 mengatakan  bahwa pembangunan Studio 5 pada mulanya berorientasi sebagai tempat untuk menyalurkan hobby foto pemilik, namun seiring dengan perkembangannya hobby terserbut dikembangkan menjadi usaha dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.
Pendirian Studio tersebut memiliki fungsi yang sangat strategis yang mana dapat dibedakan menjadi 2 fungsi :
1.      Sebagai tempat penyaluran Hobby
2.      Sebagai tempat berkreatifitas
3.      Sebagai sumber penghasilan baru
4.      Untuk menjalin koneksivitas diantara fotografer
Sampai saat ini usaha studio foto 5 memiliki karyawan berjumlah 9 orang yang dibagi kedalam 3 ketegori pekerjaan utama untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari table berikut.
Tabel 1.  Jenis Pekerjaan dan Lama Kerja Karyawan
No
Nama
Jenis Pekerjaan
Lama Kerja
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Rudi
Anto
Aldo
Awan
Ayen
Dani
Eka
Rizki
Ricki Abian
M. Taufik (Obok)
Pimpirnan/Pemilik/Fotografer
Fotografer
Fotografer
Fotografer
Fotografer
Driver/Crue
Administrasi
Administrasi
Crue
Crue
13 Bulan
13 Bulan
13 Bulan
13 Bulan
13 Bulan
13 Bulan
13 Bulan
13 Bulan
13 Bulan
13 Bulan
Sumber :  Data primer yang diolah, 2012
Dari tabel tersebut diatas bahwa untuk lama atau waktu kerja karyawan Studio 5 adalah selama 13 bulan (1 tahun lebih 1 bulan), jadi kesemua  karyawan tersebut adalah karyawan yang sama saat mulai berdiri atau launchingnya studio 5 tersebut.
Penetapan jenis pekerjaan para karyawan tersebut merupakan hak mutlak dari pimpinan sekaligus pemilik studio, menurut pimpinan penetapan jenis pekerjaan dan karyawannya lebih mengacu kepada kemampuan fotografinya dan keahlian lain yang mendukungnya.  
Untuk bagian Adminstrasi dimana fungsi ini juga digunakan sebagai media marketing untuk menjual layanan jasa yang diberikan oleh studio 5, kemampaun verbal dari Adminsitrasi sangat erat diperlukan untuk mampu menjelaskan, menarik pelanggan untuk menggunakan jasa Studio 5.
Dalam Dunia kerja tingkat pendidikan memegang peranan yang sangat penting dimana hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja dan produktifitas karyawan perusahaan, untuk Studio 5 karyawan yang berkerja rata-rata berpendidikan SMA hingga Perguruan Tinggi, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.  Tingkat Pendidikan Karyawan
No
Nama
Jenis Pekerjaan
Tingkat Pendidikan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Rudi
Anto
Aldo
Awan
Ayen
Dani
Eka
Rizki
Ricki Abian
Obok
Fotografer
Fotografer
Fotografer
Fotografer
Fotografer
Driver/Crue
Administrasi
Administrasi
Crue
Crue
Sarjana (S1)
Sarjana (S1)
Masih Kuliah
SMA
Masih Kuliah
SMA
Masih Kuliah
SMA
Masih Kuliah
Sarjana (S1)
Sumber :  Data primer yang diolah, 2012
Dilihat dari data tersebut memperlihatkan bahwa sebanyak 40 %  responden sedang menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi, sedangkan hanya 40 %  responden hanya sampai pada pendidikan tingkat SMA, sedangkan baru 20% responden yang sudah menyelesaikan dan memperoleh gelar Sarjana (S1).
Tingginya tingkat pendidikan yang diterima atau diperoleh oleh para responden dalam hal ini karyawan Studio 5 dapat dijadikan sebagai acuan kemampuan mereka dalam menyerap segala perintah dari pimpinan dan melaksanakannya sesuai dengan keinginan dari pimpinan mereka.  Dalam kehidupan organisasi, komunikasi menjadi sesuatu yang sangat penting karena komunikasi dapat meningkatkan saling pengertian antara karyawan dan atasan, dan meningkatkan koordinasi dari berbagai macam kegiatan/tugas yang berbeda. Hasibuan, 2002 mengemukakan konflik antar perseorangan yang mungkin paling sering dikemukakan adalah buruknya komunikasi, sebab kita menggunakan hampir 70% dari waktu aktif kita untuk berkomunikasi, menulis, membaca, berbicara, mendengar sehingga beralasan untuk menyi mpulkan bahwa satu dari kekuatan yang paling menghalangi suksesnya pekerjaan kelompok.
Diskripsi Jabatan para karyawan Studio 5 dapat dijabarkan dalam bagan sebagai berikut :


 








Gambar 2.  Strutur Orngasasi Studio 5 Samarinda
Dengan Job Diskripsi sebagai berikut
1.      Owner / Pemilik adalah orang yang Memegang otoritas penuh terhadap perintah dan data perusahaan serta dapat mengkoordinir para karyawan di lingkungan studio 5 photography.
2.      Tim Fotografi adalah Memiliki kewenangan untuk melakukan semua pemotretan yang diberikan oleh Studio tanpa meninggalkan etika fotografi
3.      Administrasi adalah Memiliki tanggungjawab dan kewenangan yang mengelola keuangan baik itu pemasukan ataupun pembiayaan studio serta bisa menerima order buat studio 5 photography.
4.      Driver / Crue           Memiliki tanggung jawab untuk membatu dan melancarkan semua kegiatan pemotretan yang dilakukan oleh tim fotografi, serta membatu hal – hal yang diperlukan oleh ruang studio.
Dari gambar 2 diatas tampak sistem komunikasi yang terjadi di Studio 5 adalah sistem komando dalam artian bahwa sistem yang terbangun dalam struktur tersebut adalah komunikasi dua arah, dimana puncak penyampaian pesan dan pengkoordiniran semua kegiatan Studio 5 menjadi tanggung jawab dari Pimpinan selaku pemilik Studio dengan menerapkan garis koordinasi antara unit kerja yang ada sehingga komunikasi persuasif dapat terbanngun.
Untuk tingkat pendapatannya karyawan memperoleh pendapatan sesuai dengan jabatan dan pekerjaannya, pendapatan yang diperoleh berkisar antara Rp. 1.250.000,- sampai dengan Rp. 2.500.000,- dengan perincian sebagai diperlihatkan pada tabel berikut.
Tabel 3.  Pendapatan Karyawan
No
Nama
Umur
Pendapatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Rudi
Anto
Aldo
Awan
Ayen
Dani
Eka
Rizki
Ricki Abian
M. Taufik
33
32
23
20
22
21
25
27
24
28
3.000.000,-
2.000.000,-
2.000.000,-
2.000.000,-
2.000.000,-
1.500.000,-
1.500.000,-
1.500.000,-
1.250.000,-
1.250.000,-
Sumber :  Data primer yang diolah, 2012
Menurut karyawan pendapatan yang mereka peroleh dalam satu bulan tidaklah mesti seperti nilai tersebut, biasanya pendapatan yang diperoleh lebih besar dari gaji yang mereka terima, hal ini sesuai dengan job pekerjaan yang mereka peroleh (order foto).  Selain mendapat fasilitas gaji para karyawan juga memperoleh fee atau imbalan dari job yang mereka terima, bahkan menurut pimpinan mereka bisa mencari job sendiri diluar jam kerja mereka yang sudah ada, hal ini sesuai dengan pendapat  Bambang, S yang mengatakan bahwa  pendapatan yang diberikan kepada karyawan tidak hanya gaji pokok, namun berdasarkan kebijakan dan strategi pengupahan masing-masing Perusahaan dapat pula ditetapkan pendapatan lain seperti tunjangan, bonus dan sebagainya. 
Namun permasalahan yang timbul dalam kegiatan sebuah organisasi adalah bahwa penyampaian yang dilakukan oleh pimpinan tidak serta merta dapat dipahami karyawan secara langsung dan ini menjadi kendala yang paling utama dalam upaya peningkatan produktifitas dan efektivitas kerja karyawan, hal ini sesuai dengan pandangan    Handoko dalam Kurniawan (2012) yang mengatakan bahwa keberhasilan dan kegagalah suatu organiasi pada dasaranya dipengaruhi berbagai macam hal, salah satu faktornya adalah Sumber Daya Manusia, karena segala aktifitas perusahaannya kembali kepada manusia yang merukan aset yang senantiasa perlu dikembangkan dan dikelola dengan baik.



4.2.       Penerapan Komunikasi Persuasif
Kegiatan komunikasi dalam hal ini adalah proses perpindahan informasi, bisa dikatakan telah ada sejak terbentuknya masyarakat dan telah menjadi bagian dari kehidupan keseharian manusia. menurut Suratman (1999) mengatakan bahwa 70% waktu bangun manusia digunakan untuk berkomunikasi.  Disatu sisi pada hakikatnya komunikasi adalah fitrah manusia, selam manusia masih mempunyai naluri ingin tahu dan ingin menyampaikan sesuatu kepada sesamanya, maka selama itu akan ada kegiatan komunikasi.
Komunikasi adalah suatu aspek kehidupan manusia yang paling mendasar, penting, dan kompleks. Kehidupan sehari-hari kita sangat dipengaruhi oleh komunikasi kita sendiri dengan orang lain, bahkan oleh pesan yang berasal dari orang yang kita tidak tahu (we can not not communication).  Karena ke-kompleks-an komunikasi, maka Little John mengatakan, komunikasi adalah sesuatu yang sulit untuk didefinisikan. Sementara itu, menurut ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain, agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya.
Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal adanya komunikasi persuasif, yaitu komunikasi yang bersifat mempengaruhi audience atau komunikannya, sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator.  Demikian pula dalam kegiatan organisasi, komunikasi persuasif layak diperlukan untuk mengembangan kemampuan verbal dan pemahaman antara karyawan dan pimpinannya.
Studio 5 photography sebagai sebuah organisasi perusahaan dalam kesehariannya berusaha untuk lebih dapat mampu meningkatan kinerja dan produktifitas karyawan dalam lingkungannya, menurut responden hampir 90 % mengatakan bahwa kemampuan verbal atau berkomunikasi antara pimpinan dan karyawan atau antar karyawan dengan karyawan sudah terjalin dengan baik.  Menurut mereka dalam konteks ini dapat dikatakan suasana kerja yang tercipta dilingkungan Studio 5 photography sudah berjalan dengan sangat harmonis, sehingga produktifitas dan efektivitas kerja dapat ditingkatkan.
Komunikasi persuasif akan terasa menjadi efektif jika terjadi komunikasi dua arah baik itu antara karyawan dan pimpinan atau antara karyawan dengan karyawan, komunikasi umpan balik atau dua arah memungkinkan proses komunikasi berjalan dengan lebih efektif dan dapat menciptakan lingkungan yang komunikatif dalam organisasi, dalam hal ini pimpinan haruslah aktif, berdasarkan hasil wawancara dengan responden tentang bagaimana kedekatan antara pimpinan dengan karyawan memperlihatkan bahwa kesemua responden sebanyak 9 orang atau sebesar 90% menyatakan sangat dekat.  Kedekatan tersebut terlihat dari seringnya pimpinan Studio 5 berkunjung dan melakukan dialog tentang permasalahan kerja, baik itu mengenai kondisi studio ataupun pekerjaan pemotretan yang mereka lakukan.
Semakin kompleksnya kehidupan manusia, membuat peranan komunikasi semakin tidak terelakan, untuk kepentingan berinteraksi, memecahkan masalah, ataun untuk menjalin hubungan yang baik dengan sesama baik itu masyarakat maupun rekan ditempat kerja.  Demikian pula bila dilihat dari sudut pandang organisasi atau perusahaan sebagai suatu kesatuan sosial yang terdiri dari orang atau kelompok orang yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, komunikasi memiliki peran penting untuk menjalin hubungan atau relation kerja antara pimpinan dan karyawan.
Dengan kedekatan yang dibangun oleh manajemen Studio 5 memperlihatkan bahwa komunikasi persuasif sudah terbangun dengan baik, pola kedekatan dengan lebih respect dan memberikan perhatian pada saat karyawan sedang bekerja dirasa sangat memberikan dorongan, motifasi dan semangat dalam menjalankan semua aktifitas para karyawan.
4.3.       Gambaran Diskripsi Hubungan Komunikasi Persuasif dengan Budaya Kerja dan Kinerja Karyawan
Dalam proses komunikasi, ada lima elemen dasar yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dengan istilah “Who Says What in Which Channel to Whom with What Effect”. Kelima elemen dasar tersebut adalah Who (sumber atau komunikator), Says What (pesan), in Which Channel (Saluran), to Whom (Penerima), with What Effect (Efek atau dampak). Lima elemen dasar dari komunikasi yang dikemukakan oleh Harold Laswell di atas akan bisa membantu para komunikator dalam menjalankan tugas mulianya.
Berhasil tidaknya suatu komunikasi tergantung dari kelima elemen dasar tersebut. Bagaimana komunikator bisa mempengaruhi komunikannya, sehingga bisa bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator, bahkan bisa merubah sikap dan perilaku dari komunikan tersebut. Namun, komunikator, pesan, saluran yang bagaimana yang akan bisa merubah sikap dan perilaku komunikan, serta perubahan yang bagaimana yang diharapkan harus menjadi perhatian sangat besar bagi kita semua.
Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal adanya komunikasi persuasif, yaitu komunikasi yang bersifat mempengaruhi audience atau komunikannya, sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Menurut K. Andeerson, komunikasi ersuasive didefinisikan sebagai perilaku komunikasi yang mempunyai tujuan mengubah keyakinan, sikap atau perilaku individu atau kelompok lain melalui transmisi beberapa pesan. Sedangkan menurut R. Bostrom bahwa komunikasi persuasif adalah perilaku komunikasi yang bertujuan mengubah, memodifikasi atau membentuk respon (sikap atau perilaku) dari penerima.
Komunikasi persuasif ini dapat dipergunakan dalam kegiatan usaha, khususnya usaha yang menekankan kepada kegiatan jasa. Yang dikehendaki dalam komunikasi persuasif adalah perubahan perilaku, keyakinan, dan sikap yang lebih mantap seolah-olah perubahan tersebut bukan atas kehendak komunikator akan tetapi justru atas kehendak komunikan sendiri. Persuasi yaitu menggunakan informasi tentang situasi psikologis dan sosiologis serta kebudayaan dari komunikan, untuk mempengaruhinya, dan mencapai perwujudan dari apa yang diinginkan oleh message Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar komunikasi kita menjadi persuasif atau bisa mempengaruhi orang lain.
Budaya kerja adalah cara kerja sehari-hari yang bermutu dan selalu mendasari nilai-niali penuh makna, sehingga menjadi motivasi, memberi inspiras, untuk senantiasa bekerja lebih baik dan memuaskan, dengan demikian setiap fungsi atau proses kerja mempunyai perbedaan dalam cara bekerjanya yang mengakibatkan perbedaan nilai-nilai dalam kerangka kerja organisasi.  Hal tersebut seperti niali-nilai apa saja yang patut dimiliki, dan bagaimana perilaku setiap orang akan dapat mempengaruhi kerja mereka, kemudian falsafah yang dianutnya. 
Ada beberapa hal yang menjadi pemikiran mendasar dari pimpinan untuk membangun budaya kerja yang baik dilingkungan Studio 5, misalnya dengan melakukan pendekatan dan komunikasi yang intens dengan karyawan, membangun komunikasi bukanlah perkara yang gampang, persepsi, dan kemampuan menyerap perintah verbal para karyawan menjadi permasalah yang sangat mendasar, seperti halnya dalam lingkugnan studio 5 dimana berdasarkan pertanyaan apakah pimpinan mendengarkan keluhan para karyawan sebanyak 6 orang (60%) menyatakan bahwa pimpinan tidak begitu mendengar keluhan yang disampaikan, dan 4 orang (40%) menyatakan bahwa pimpinan mendengarkan keluhan yang sampaikan oleh karywan.
Komunikasi persuasif dapat dikatakan sebagai petunjuk dan penafsiran pesan antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu.  Definisi tersebut lebih menekankan pada aspek fungsional (Objektif), sedangkan bila dilihat dari interperstasi (Subjektif) dapat dipandang sebagai proses penciptaan makna atas sebuah interaksi (Pace & Faules 2001).
Kondisi ini dimungkinkan terjadi sebagai akibat kurang terjadinya komunikasi dua arah (timbal bailk) antara karyawan dan pimpinan, sehingga apa yang menjadi keinginan mereka dapat langsung direspon oleh pimpinan.  Berbeda dengan item apakah pimpinan memperhatikan saat anda sedang bekerja sebanyak 70% mengatakan pada bahwa ada perhatian dari pimpinan saat karyawan sedang melakukan pekerjaan dan hanya 30%  yang menyatakan tidak ada perhatian dalam melakukan pekerjaan.
Komunikasi persuasif dikatakan gagal, ketika mengikuti sosialisasi pada seminar di suatu perguruan tinggi yang dimana audiencenya adalah mahasiswa dan masyarakat umum yang mempunyai pendidikan dan pengalaman yang jauh lebih tinggi dari komunikator. Seandainya pada saat itu para komunikator yang hadir kurang menguasai program yang dibawa, tentunya masyarakat tidak akan puas, bahkan mungkin tidak akan berpengaruh pada perubahan sikap yang diharapkan. Ketidak-kredibelan komunikator juga sering disampaikan oleh masyarakat sendiri, dengan cara membandingkan antara fasilitator yang satu dengan fasilitator lainnya. Kemudian trustworthiness (dapat dipercaya) juga sangat penting bagi komunikator supaya komunikasi yang dilakukannya menjadi persuasif. Ketika seorang komunikator yang sudah tidak dipercaya oleh komunikan, apapun yang disampaikannya tidak akan didengar oleh komunikannya.
Dalam hal apakah pimpinan memberikan saran dalam hal memutuskan pekerjaan kesemua responden 100% mengatakan bahwa setiap keputusan di lingkungan Studio 5 menjadi kewenangan dan hak dari pimpinan. Bila pesan mengalir melalu jalur resmi yang ditentukan oleh perusahaan atau fungsi pekerjaan maka pesan itu masuk kedalam jalur formal seperti dijelaskan oleh Liliweri (1997) yang menaytakan bahwa suatu komunikasi dalam organisasi dapat dikatakn formal apabila memenuhi persyarakatan sebagai berikut :
1.      Komunikasi formal sebagai fasilitas mengkoordinir kegiatan
2.      Hubungan formal meliputi hubungan antara atasan dan bawahan
3.      Komunikasi formal memungkinkan anggota dapat mengurangi atau menekan waktu terbuang
4.      Komunikasi formal menekankan pada dukunganyang penuh dan kuat dari otoritas pimpinan
Pesan formal yang tercipta di Studio 5 photography memperlihatkan arus dari atas kebawah dan pesan selalu bergerak selama dalam jalur struktur tersebut terjadi komunikasi dua arah.

Untuk permasalahan bonus, dari pertanyaan apakah pimpinan memberikan bonus atas prestasi dan hasil kerja karyawan diperoleh bahwa 100 % responden mengatakan bahwa untuk urusan bonus pierusahaan atau pimpinan selalu memberikan reward atau bonus terhadap hasil kerja yang telah mereka berikan, selain itu member tips untuk kegiatan kerja yang melewati dari waktu kerja yang disepakati.  Perhatian yang besar juga diberikan oleh pihak Studio 5 terhadap keberhasilan para karyawannya dalam mendapatkan dan menyelesaikan pekerjaan.
Dari hasil penelitian diatas dapat diperhatikan bahwa penerapan komunikasi persuasif di lingkungan studio foto bukanlah mutlak dilakukan hanya oleh pimpinan Studio, namun semua komponen yang terdapat dalam Studio 5 photography harus bisa memberikan timbal balik bagi terciptanya suasana kerja yang kondusif.   Penggunaan komunikasi persuasif di lingkungan Studio 5 memperlihatkan dua sistem komunikasi yaitu sistem komunikasi formal dan informal, dimana penyampaian pesan komunikasi oleh pimpinan dapat dilakukan dengan cara menempatkan posisi dan kedudukan jabatan dalam organisasi sebagai patokannya, namun dilain waktu pimpinan studio juga bisa menanggalkan atribut jabatannya.
Penggunaan komunikasi persuasif secara tidak langsung juga akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku bawahan sehingga akan mengganggu hubungan kerja dalam ruang lingku kerja seperti pendapat Kotler (2000) yang menyatakan salah satu ciri komunikasi yang paling nyata adalah konsep hubungan dimana semua jaringan yang terhubungan dalam rangkaian kerja tersebut saling berhubungan secara nyata.
Dimana apabila dalam Studio 5 pimpinan perusahaan selaku pemilik atau owner dari studio dan juga adalah koordinator segala kegiatan dalam ruang lingkup pekerjaan Studio 5 terlalu sering melepaskan posisi jabatannya dalam menjalin hubungan dengan karyawan maka dikhawatirkan akan terjadi penurunan nilai khusus terhadap kepatuhan terhadap pimpinan, dimana karyawan dengan mudah berkata tidak terhadap pekerjaan yang dibebankan kepada hal ini sesuai dengan pendapat  Menurut Pace & Faules (2001) bila anggota berkomunikasi tanpa memperhatikan potennsinya maka itu dapat dikatakan sebagai komunikasi informal.

 
BAB V
PENUTUP

5.1.       Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah :
1.      Dari pertanyaan yang diajukan berupa apakah pimpinan mendengarkan keluhan para karyawan sebanyak 6 orang (60%) menyatakan bahwa pimpinan tidak begitu mendengar keluhan yang disampaikan, dan 4 orang (40%), kedekatan antara pimpinan dengan karyawan memperlihatkan bahwa kesemua responden sebanyak 9 orang atau sebesar 90% menyatakan sangat dekat, pimpinan memperhatikan saat anda sedang bekerja sebanyak 70% mengatakan pada bahwa ada perhatian dari pimpinan saat karyawan sedang melakukan pekerjaan dan hanya 30%  yang menyatakan tidak ada perhatian dalam melakukan pekerjaan, pimpinan memberikan saran dalam hal memutuskan pekerjaan kesemua responden 100% mengatakan bahwa setiap keputusan di lingkungan Studio 5.
2.      Berdasarkan hasil wawancara dan interview yang dilakukan terhadap kesemua responden memperlihatkan bahwa 90 % mengatakan bahwa kemampuan verbal atau berkomunikasi antara pimpinan dan karyawan atau antar karyawan dengan karyawan sudah terjalin dengan baik.
3.      Dengan adanya komunikasi timbale balik atau dua arah maka secara perlahan akan terjadi peningkatan yang positif terhadap Budaya Kerja dan Kinerja karyawan ini dapat dilihat dari antusias mereka saat menerima reward dari Perusahaan / Studio Foto 5 photography Samarinda.
5.2.       Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas, maka peneliti perlu memberikan saran-saran, antara lain:
1.      Dapat dimanfaatkan sebagai rujukan dalam melakukan penelitian berikutnya terutama mengenai komunikasi persuasif terhadap Budaya Kerja dan Kinerja dengan mengembangkan variabel yang lebih luas,
2.      Untuk Studio 5 sebaiknya selalu menjalin komunikasi dua arah secara persuasif untuk menghindari ketegangan yang terjadi, dan buat pimpinan jangan terlalu menggunakan posisinya saat berkomunikasi secara pribadi dengan karyawan supaya tidak terjadi kekakuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar